|
Ekonomi Bisnis
Investor Baru dan Besar Belum akan Masuk Ke Indonesia
17 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia belum bisa mengharapkan investor baru dan besar masuk menjelang pemilihan umum 2004 yang akan datang. "Kalau kita mengharapkan investor besar, harus menunggu setelah pemilu," kata pengamat ekonomi dari CSIS, Marie Pangestu usai seminar 'Reshaping the Asia Pasific Economic Order', di gedung CSIS, Jakarta, Rabu (17/12).
Menurutnya investor baru, bahkan yang sudah ada akan menghitung resiko dan kemungkinan investasi. Resiko bisa berupa aksi terorisme atau dampak pemilu 2004. Mereka akan melihat prospek jangka panjang. Soal ini menjadi sangat krusial karena investasi dalam jumlah besar yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tiga atau empat persen menjadi enam persen.
Dia melihat pertumbuhan ekonomi tahun depan masih didorong peningkatan konsumsi masyarakat. Cara lain bisa ditempuh yaitu dengan meningkatkan ekspor. Selama ini, Indonesia fokus ekspor hanya ke Amerika Serikat, Jepang atau negara barat. Padahal, tingkat pertumbuhan ekonomi Amerika atau Jepang diramalkan tidak terlalu menggembirakan tahun yang akan datang. Karenanya, pemerintah harus mencari negara alternatif menjual barang. Cina bisa dijadikan pasar karena negara ini menjadi motor pertumbuhan tidak hanya di Asia, tapi juga di dunia. "Masih ada harapan untuk meningkatkan ekspor," katanya yakin.
Yang menjadi pertanyaan adalah kecenderungan nilai rupiah. Menjelang pemilihan umum, nilai rupiah terhadap dolar terus menguat. Ini berbeda dengan dalil umum di mana pada pemilu sebelumnya rupiah selalu melemah terhdap dolar. Kecenderungan nilai rupiah ini, katanya, bisa berdampak pada konsumsi dan ekspor. "Pertanyaan ini mungkin saja bisa mengganggu prospek ekonomi kita," katanya.
Menurutnya, dampak pemilu terhadap ekonomi sulit diprediksi. Apalagi memprediksi kemungkinan pengaruh negatifnya. Arah perubahan setelah pemilu, katanya, sangat tergantung sikap partai politik dan figur yang muncul.
Secara keseluruhan, Marie melihat stabilitas makro ekonomi masih bisa dipertahankan. Namun ia mengingatkan agar daya saing industri sektor riil ditingkatkan karena cenderung makin berkurang. Dan ini akan bisa diselesaikan melalui kebijakan yang tidak terpotong-potong.
Yandi M Rofiandi - Tempo News Room
|