|
Ekonomi Bisnis
Pengamat Migas: Keberhasilan Melobi Jepang Tergantung Iklim Investasi di Indonesia
11 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Upaya pemerintah melobi Jepang untuk meraih pasar gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG) di negara itu tidak akan berhasil bila iklim investasi di Indonesia tidak berubah. Karena kompetisi pasar LNG internasional tidak hanya dipengaruhi oleh faktor harga tetapi juga iklim investasi di negara tersebut.
Pengamat minyak dan gas asal ITB, Widjajono Partowidagdo, di sela diskusi tentang migas di Jakarta, Kamis (11/12), mengatakan hal itu berkaitan dengan kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri ke negeri sakura itu. Dalam kunjungan bilateral tersebut, antara lain dibicarakan tentang permintaan pemerintah agar Jepang memperpanjang, atau bahkan menambah kontrak pembelian LNG yang selama ini sebesar 12 juta ton.
Menurut Widjajono, kekhawatiran investor untuk berbisnis di Indonesia adalah karena tingkat resiko yang cenderung tinggi. Ini dipengaruhi oleh faktor keamanan, kepastian hukum, perpajakan, dan otonomi daerah. Selama faktor-faktor tersebut bisa diselesaikan, minat investor tentu akan tingi.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, mengatakan bahwa masalah perdagangan itu bukan merupakan permasalahan swasta, melainkan ada juga kepentingan pemerintah. "Ada pertimbanagn geopolitik, tidak swasta murni," ujarnya
Menteri mencontohkan, pembelian LNG Jepang dari Shakalin, Rusia. Pembelian itu dipertanyakan karena harga yang ditawarkan Rusia jauh lebih mahal daripada Indonesia. Purnomo mengatakan, ada pendekatan antar pemerintah (Goverment to Goverment/G to G) dalam kasus tersebut.
Karena itu, kata Purnomo, Indonesia juga melakukan pendekatan antar pemerintah untuk mendorong perdagangan. Ia berharap, Jepang memperpanjang kontrak jual beli gas yang akan habis beberapa tahun mendatang. Namun, ia membantah pihaknya akan melakukan penekanan untuk memperoleh order tersebut.
Widjajono menyarankan, sebaiknya pemerintah tidak mengutamakan gas untuk ekspor. Penggunaan gas untuk kepentingan domestik justru menguntungkan karena jumlah cadangannya lebih besar, lebih murah, dan ramah lingkungan. "Yang diekspor minyaknya saja," kata dia.
Retno Sulistyowati - Tempo News Room
|