|
Ekonomi Bisnis
Laba Bersih Pertamina Tahun 2003 Rp 4,5 Triliun
10 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Pertamina (Persero) memprediksikan keuntungan bersih tahun ini mencapai Rp 4,5 triliun, setelah dipotong setoran kepada pemerintah sebesar Rp 5,6 triliun. Hal ini disampaikan pejabat Direktur Keuangan PT Pertamina Persero, Andri, dalam konfrensi pers kinerja Pertamina 2003, dalam peringatan HUT Pertamina, di Jakarta, Rabu (10/12).
Pendapatan Pertamina tersebut, sebagian besar diperoleh dari bisnisnya di sektor hulu sebesar Rp 8,6 triliun, dan sisanya merupakan pendapatan dari sektor hilir dan corporate. Pendapatan tahun 2003 tersebut menurun dari pendapatan tahun sebelumnya. Hal itu dikarenakan hilangnya pendapatan dari retensi yang biasanya diterima Pertamina sebagai regulator. Saat ini, pemegang regulasi diambil alih oleh Badan Pelaksana sektor hulu Minyak dan Gas (BP Migas).
Dia menjelaskan, pajak pada saat Pertamina menjadi BUMN non Persero sebesar 60 persen dari pendapatan. Sedangkan pajak yang harus dibayarkan setelah menjadi Persero mengikuti aturan Perseroan yang ada. Diperkirakan pajak Perseroan ditambah dengan PPh adalah sebesar Rp 5,5 triliun. Dari pendapatan tersebut Pertamina memiliki sejumlah kewajiban kepada pemerintah. Besarnya kewajiban itu saat ini masih dalam proses audit oleh Departemen Keuangan, karena pajak Pertamina dibedakan atas dua hal, yaitu pajak sebelum menjadi Persero dan sesudah menjadi Persero.
Tahun depan, Pertamina menargetkan pendapatan yang lebih besar lagi. Ini berkaitan dengan peningkatan produksi minyak yang diproyeksikan mencapai 140 ribu barel perhari. Tingkat produksi minyak saat ini dipertahankan pada level 119 ribu barel perhari. Selain itu, Pertamina juga memproduksi gas sebesar 914 juta kaki kubik perhari. Dan uap panas bumi sebanyak 28 ribu ton perhari.
Secara keseluruhan, produksi minyak, gas dan panas bumi mengalami peningkatan dari produksi tahun 2002 sebesar 267 ribu barel minyak perhari menjadi 285 ribu barel minyak perhari pada tahun 2003. Produksi tersebut dibedakan atas produksi dari operasional Pertamina sendiri dan kemitraan. Dari hasil operasi di tujuh daerah yang dimiliki Pertamina dihasilkan 44 ribu barel minyak perhari. Sedangkan melalui 30-an kemitraan yang ada Pertamina memproduksi minyak sebanyak 75 ribu barel perhari.
Direktur Hilir Pertamina, Hari Purnomo menambahkan, hasil produksi dari operasi Pertamina sendiri memang lebih kecil daripada kemitraan. Hal itu terkait dengan investasi yang diperlukan. Menurutnya, pendapatan yang diperoleh dari sektor hulu tidak dimanfaatkan semuanya untuk investasi sektor tersebut, melainkan digunakan pula untuk pengembangan sektor lain.
Pertamina juga melakukan penekanan biaya produksi minyak, gas dan panas bumi pada level yang dinilai cukup ekonomis. Biaya yang dimaksud sebesar US$ 2,65 per Barel Oil Equivalent (BOE), sedikit mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya sebesar US$ 2,26 per BOE.
Retno Sulistyowati - Tempo News Room
|