|
Ekonomi Bisnis
BI akan Perketat Pengawasan Bank Pemerintah
08 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengatakan pihaknya akan memperketat pengawasan terhadap semua bank, terutama bank pemerintah. Upaya ini dilakukan setelah rekening PT Bank Negara Indonesia Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia dibobol.
"Kami akan memakai semua kemungkinan untuk mengawasi semua bank," katanya usai rapat dengan Dana Moneter Internasional di Departemen Keuangan Jakarta, Senin (8/12). Menurut Burhanuddin, pihaknya juga meningkatkan pengawasan pada bank-bank besar yang kerusakannya bisa merembet secara nasional.
Namun, katanya, bagaimana pun ketatnya pengawasan yang dilakukan Bank Indonesia, tidak akan bisa mencegah kasus pembobolan serupa jika, "Karyawan banknya tidak punya integritas." Untuk itu, Burhanuddin telah mengumpulkan semua direksi bank dan meminta memperkuat integritas karyawan di banknya masing-masing.
Burhanuddin mengaku belum menerima nama-nama calon direksi dan komisaris BNI yang akan diuji kepatutan dan kelayakannya di Bank Indonesia. "Saya dengar hari ini nama-nama mereka akan saya terima," katanya. Untuk itu ia belum bisa memastikan apakah BI akan mempertahankan komisaris yang lama. Bank Indonesia, katanya, akan bekerja ekstra keras agar uji kepatutan dan kelayakan itu bisa selesai pekan ini. "Tanggal 15 Desember harus sudah selesai," katanya.
Seperti diketahui rekening BNI bobol Rp 1,7 triliun akibat pengajuan rekening ekspor fiktif oleh Gramarindo Group milik Maria Pauline Loumowa. Sementara rekening BRI tahun ini kecolongan Rp 294 miliar.
Di tempat yang sama Kepala Perwakilan IMF untuk Indonesia David CL Nellor mengatakan, pembobolan bank disebabkan oleh lemahnya pengawasan internal bank. "Ini harus menjadi fokus perhatian dalam jangka pendek," katanya. Untuk jangka menengah, kata Nellor, pemerintah harus memfokuskan pada kebijakan apa yang akan diambil dan mengatur bank-bank milik pemerintah itu. "Misalnya, apakah akan dijual ke investor strategis," katanya.
Namun, bagi Nellor, budaya kredit merupakan hal yang paling dasar yang harus diterapkan pada setiap bank. Pasalnya, kata dia, pengelolaan kredit yang baik akan meningkatkan kepercayaan nasabah dan investor, selain mempermudah fingsi intermediasi perbankan. "Budaya kredit yang baik menunjukan kredit disalurkan secara benar," katanya.
Bagja Hidayat - Tempo News Room
|