Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

Dirjen Cukai: Tak Ada Kenaikan Cukai Rokok
07 Desember 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Jenderal Bea dan Cukai Eddy Abdurrahman memastikan pemerintah tidak akan menaikkan cukai dan pajak rokok tahun ini dan tahun depan. "(Karena ) cukai masih jadi andalan penerimaan negara," katanya di sela perayaan Natal bersama Departemen Keuangan dan Kantor Menko Perekonomian di Senayan, Jakarta, Minggu (7/12).

Eddy mengakui penerapan tarif cukai rokok sebagai suatu yang dilematis. Frame Work on Tobacco Control dalam sidangnya beberapa waktu lalu di Jakarta meminta pemerintah menaikkan cukai rokok untuk menekan tingkat konsumsi rokok di masyarakat. Tapi, kata Eddy, jika cukai dinaikan penerimaan negara akan berkurang dan menyebabkan efek berantai lainnya.

Berkurangnya penerimaan negara, jika tarif cukai naik, itu disebabkan industri rokok mengurangi jumlah produksinya. "Akibatnya permintaan bahan baku ke petani tembakau juga berkurang," katanya.

Ia mencontohkan, sejak 2001 pemerintah menaikan cukai paling tinggi hingga 40 persen untuk industri rokok yang memproduksi lebih dari 2 miliar batang per tahun, baik untuk industri mesin maupun buatan tangan. "Produksi rokok turun dari 235 miliar batang menjadi 190 miliar batang," katanya. Di sisi lain DPR meminta pemerintah menaikan target pendapatan cukai untuk menggenjot penerimaan negara.

Saat ini, kata Eddy, 80 persen penerimaan cukai berasal dari industri rokok dan 98 persen industri itu menyediakan lapangan kerja dalam jumlah yang besar. Jika tarif cukai dinaikkan, ini bisa membuat industri rokok gulung tikar.

Selain tarif cukai, Eddy memastikan, pemerintah juga tak akan menaikan harga rokok di tingkat eceran. "Kalau dinaikan akan berpengaruh pada produksi dan lapangan kerja," katanya. Meski begitu ia tidak menyangkal jika naiknya produksi rokok menyebabkan tingkat konsumsi juga ikut naik seperti yang dikhawatirkan FCTC dan Departemen Kesehatan.

Bagja Hidayat - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data