|
Ekonomi Bisnis
Recovery PT Dirgantara Mulai Awal 2004
04 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Manajemen PT Dirgantara Indonesia mengungkapkan, pemulihan recovery kondisi perusahaan yang tengah dirundung berbagai masalah akan dimulai awal tahun 2004 mendatang. Demikian diungkapkan Direktur Utama PT Dirgantara, Edwin Sudarmo di Jakarta, Kamis (4/12) siang.
Edwin menjelaskan, sejak beralihnya kepemilikan saham PT Dirgantara ke tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) melalui skema debt to equity swap sebesar Rp 1,7 triliun, diperlukan sejumlah langkah perbaikan dan penyelamatan. Hal tersebut demi kelangsungan perusahaan pembuat pesawat terbang itu.
"Langkah rasionalisasi karyawan sebenarnya merupakan konsekuensi logis yang harus dijalankan oleh jajaran PT DI berkaitan dengan rekomendasi Pokja Restrukturisasi interdept kepada manajemen untuk melakukan program penyelamatan perusahaan," paparnya. Langkah tersebut terdiri dari tiga tahap, yakni penyelamatan (rescue), pemulihan (recovery), dan pertumbuhan (development).
Dia menjelaskan, langkah-langkah yang ditempuh Direksi PT Dirgantara merupakan keputusan pemerintah berdasar pada rapat Komite Kebijakan Sektor Keuangan 17 Juli 2003 lalu yang tetap mempertahankan eksistensi perusahaan tersebut, serta hasil Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 19 dan 22 Agustus 2003 yang harus merasionalisasi 6000 karyawan.
Selanjutnya, kata Edwin, tahap recovery diupayakan awal sampai akhir 2004 yang akan diikuti dengan tahap growth tahun 2005 dan seterusnya. Mulai tahun itu pula pihaknya menargetkan penjualan sekitar 40 pesawat jenis CN 235 ke beberapa negara, khususnya di kawasan Asia. "Syaratnya, semua permasalahan perusahaan, terutama proses pengrumahan 6600 karyawan, diharapkan telah selesai akhir tahun ini," tandasnya.
Menurut Direktur Niaga PT Dirgantara, Iwan Sumitro, rencana penjualan pesawat tersebut merupakan bagian dari grand strategy perusahaan yang telah ditetapkan oleh pihak manajemen. "Rencananya, 40 pesawat tersebut akan kita jual ke beberapa negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, Brunei, Korea dan juga ke Libya," ujarnya.
Sebelum melakukan penjualan tersebut, pihaknya akan berusaha mendapatkan kontrak pembuatan pesawat yang menurutnya terbaik di kelasnya di seluruh dunia itu. "Kita targetkan kontrak penjualan sejumlah pesawat itu pada periode 2004-2010," jelas Iwan. Ditambahkan, pihaknya akan melakukan minor investment di assembly line CN 235 sehingga dapat melakukan produksi sampai dengan 12 pesawat per tahun hingga 2005 mendatang.
Danto - Tempo News Room
|