|
Ekonomi Bisnis
Bulog Tetap Impor Beras
04 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) akan tetap melakukan impor beras pada Januari-Februari 2004.
Menurut Direktur Utama Perum Bulog Widjanarko Puspoyo, impor yang menjadi bagian dari counter trade berjumlah 200 ribu ton.
"Jumlah ini akan bertambah terus hingga November sampai Desember 2004," kata Widjanarko di sela-sela acara halal bihalal di kantornya, Kamis (4/12).
Impor senilai US$ 100 juta ini akan dilempar ke pasaran beras miskin. "Bukan ke pasaran umum," kata dia. Untuk itu pihaknya mengaku heran dengan berbagai pemberitaan terakhir ini, terutama komentar dari Menperindag Rini MS Soewandi yang menyatakan Bulog tidak perlu mengimpor beras saat ini karena stok nasional dirasa cukup.
"Tidak ada apa-apa. Ini kan rutin kegiatan Bulog tiap tahun," jelas Widjanarko. Ia menjamin Bulog tidak akan pernah menjual beras impor ke pasaran umum. "Karena tugas utama Bulog kan menjaga ketersediaan raskin (beras miskin)," kata dia.
Widjanarko mengaku heran mengapa impor yang dilakukan Bulog banyak dipertanyakan oleh berbagai pihak. Menurutnya, sampai saat ini stok beras Bulog tersedia sampai 12 bulan, sedangkan konsumsi beras satu bulan untuk Indonesia sekitar 2,5 juta ton.
Widjanarko meminta rencana Bulog untuk melakukan impor tidak dikaitkan dengan hal tertentu. Menurutnya, impor tersebut merupakan perencanaan yang strategis dan bukan karena menyiapkan diri untuk peristiwa seperti hari raya atau pemilu.
"Rencana impor ini bukan tiba-tiba. Hanya saja Bulog tidak ingin mengambil resiko terjadinya kesulitan pangan karena ketiadaan beras bagi masyarakat miskin," kata dia.
Menurut Widjanarko, tugas Bulog bukan untuk menjaga stabilisasi harga. Untuk urusan ini, katanya, diserahkan saja pada kekuatan pasar, bukan pada pemerintah.
Widjanarko menambahkan, kalau harga beras sudah melampaui kemampuan konsumen, yaitu 25 persen di atas harga wajar, barulah Bulog melakukan turun tangan untuk operasi pasar.
Sebenarnya, kata Widjanarko, Bulog sudah mengusulkan untuk menetapkan kuota tarif impor beras ini. "Biar diketahui secara jelas berapa sih sebenarnya yang boleh diimpor ke Indonesia," katanya.
Ia mencontohkan, tahun lalu angka impornya fluktuatif antara 2,5-3 juta ton. Angka ini, diakuinya, cukup besar. Meski begitu Widjanarko tidak bisa menyebutkan apakah pada tahun 2004 akan tetap mengimpor antara jumlah tersebut. "Ya tinggal kesepakatan antarinstansi saja," katanya.
Sebelumnya, rencana Bulog mengimpor beras ditentang berbagai pihak karena dinilai mengacaukan harga dasar gabah di tingkat petani. Menurut Widjanarko, dengan kebutuhan Indonesia per bulannya sebesar 2,5 juta ton, maka pasokan sekitar ratusan ribu ton yang ada di petani tidak ada artinya.
Menurutnya, Bulog tidak berani untuk mengambil resiko untuk tidak mengimpor dan membiarkan terjadinya kemungkinan kekurangan stok beras di tingkat raskin. Beras raskin ini nantinya dijual ke konsumen sebesar Rp 1.000 per kilogram.
Anastasya Andriarti - Tempo News Room
|