Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

BI Sepakat dengan Hasil Audit BPK
03 Desember 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta: Deputi Gubernur Bank Indonesia, Bunbunan Hutapea, menyatakan bahwa pihaknya tunduk dengan hasil audit BPK yang menyatakan tidak sepatutnya Rekening 502 dibebankan untuk membayar tunggakan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp 14,5 triliun. "Mudah-mudahan ini dianggap kita sudah sepakat dengan BPK," katanya sembari tersenyum dalam acara dengar pendapat dengan Komisi Perbankan DPR di gedung DPR/MPR Jakarta, Rabu (3/12) siang.

Menurut Bunbunan, selama ini pihak BI mengambil Rekening 502 yang dananya diperoleh pemerintah dengan penerbitan Surat Utang, berdasarkan kesepakatan dengan DPR pada tanggal 3 Juli 2003. Pada saat itu disepakati pembayaran BLBI sebesar Rp 144,5 triliun dari total kewajiban sebesar Rp 159 triliun. "Sisanya sebesar Rp 14,5 triliun akan ditentukan kemudian setelah ada audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)," katanya.

Ternyata kemudian BPK beranggapan pembayaran BLBI Rp 14,5 triliun tersebut tidak seharusnya dibebankan ke Rekening 502. Berdasarkan hal itulah kemudian pemerintah melalui Departemen Keuangan dan Bank Indonesia sepakat agar pembayaran BLBI melaui Rekening 502 agar dibebankan ke Bank Indonesia. Bank Indonesia kemudian menyetor dana sebesar Rp 14,5 triliun sesuai dengan dana yang ada pada Rekening 502 pada awalnya. "Dan kesepakatan ini sudah kita sampaikan ke DPR dalam rapat dengar pendapat pada tanggal 14 November 2003," ujarnya.

Pada pertemuan 14 November itu juga disepakati pengeluaran dana Rekening 502, yang diisi kembali oleh BI, tahap pertama sebesar Rp 1,7 triliun untuk pembayaran interbank exchange offer programme. termasuk bunganya sebesar US$ 4,8 juta yang jatuh tempo 2 Desember 2003. "Oleh karenanya dalam pandangan BI, permasalahan menyangkut pembebanan Rekening 502 untuk pembayaran BLBI sebesar Rp 14,5 triliun sudah kami anggap selesai," katanya.

Interbank Exchange Offer Programme merupakan program restrukturisasi utang lama pemilik Bank Beku Operasi (BBO) dan Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU) di Indonesia kepada bank asing dalam bentuk valuta asing. Pinjaman itu juga merupakan program pinjaman dalam rangka Frankfrut Agreement pada 2 Juli 1998. Kesepakatan itu diteken oleh Menteri Keuangan Radius Prawiro (ketika itu) sebagai wakil pemerintah. Saat kesepakatan itu diteken pinjaman itu dijamin oleh Bank Indonesia yang kemudian dialihkan pelaksanaannya kepada pemerintah melalui BPPN.

Amal Ihsan - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

BPPN: Target Privatisasi BUMN Tercapai
Calon Investor Aset APP Diminta Menawar Ulang
BPPN Tolak Pengalihan Hak Tagih Kiani Kertas
Lippo Bank Kemungkinan Dijual Murah
Bank Sentral Korea Ijinkan Kookmin Bank Dalam Divestasi BII

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data