|
Ekonomi Bisnis
Pembenahan Manajemen Impor Beras Sangat Mendesak
02 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dirjen bina produksi tanaman pangan, M Jafar Hafsah menilai kebijakan impor yang dilakukan Bulog tidak tepat. Itu karena impor dilakukan saat harga gabah petani dalam negeri sedang anjlok. "Seharusnya Bulog lebih mengutamakan membeli beras petani yang sedang jatuh. Impor belum perlu," katanya di Dusun Plawan, Desa Karang Mulya, Kecamatan Teluk Jambe, Karawang Selasa (2/12).
Seperti diketahui, Bulog berencana mengimpor beras sebanyak 200 juta ton selama November-Desember 2003 untuk memenuhi persediaan selama lebaran, natal, dan tahun baru.
Tapi, Jafar menilai lain. Katanya, Bulog tidak perlu mengimpor beras karena kebutuhan dalam negeri masih mencukupi. Stok beras ditangan Bulog masih sekitar 2 juta ton. Kemudian ada stock di masyarakat produsen, konsumen, dan di penggilingan. ”Jadi, tidak perlu impor beras lagi,”katanya.
Yang harus dilakukan pemerintah adalah memperbaiki manajemen impor beras di Indonesia agar harga gabah di tingkat petani tidak terus anjlok. Pemerintah bisa mengatur kembali jumlah volume impor, lembaga yang mengimpor, waktu dan tempatnya, dan bea masuk impor beras yang seharusnya ditetapkan sebesar Rp 700. “Ini sudah mendesak,”katanya.
Jika manajemen impor beras tidak segera diperbaiki, lanjutnya, maka Indonesia akan kesulitan mengembangkan potensi dalam negeri. Impor beras akan menyebabkan harga gabah n turun. Akibatnya, produksi gabah nasional juga akan merost karena petani tidak tertarik lagi menanam padi.
Putri Alfarini - Tempo News Room
|