|
Ekonomi Bisnis
Dunia Usaha Masih Ragu, Kebijakan Moneter Tak Efektif
01 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aslim Tadjuddin mengatakan, dunia usaha yang masih ragu membuat kebijakan moneter tak terlalu memberi hasil yang efektif. Buktinya, tingkat pencairan kredit masih kecil dibanding pinjaman yang sudah disepakati. Data BI menunjukkan, pencairan kredit hanya 33,9 persen dari total pinjaman yang sudah disetujui. Padahal, suku bunga penjaminan sudah turun banyak dan tadinya, diharapkan bisa memicu ekspansi penyaluran kredit ke sektor riil. “Kalau sektor riilnya belum siap, mau bagaimana?” ujarnya ketika dihubungi TNR, Senin (1/12) siang.
Rendahnya tingkat pencairan kredit atau /credit disbursement rate/ dibandingkan dengan pinjaman yang telah disepakati /(credit approval rate)/ menunjukkan sektor riil masih ragu melakukan investasi. Menurutnya, pengusaha masih /wait and see/, menunggu usainya Pemilu 2004. Aslim menghimbau mereka agar tidak mencemaskannya.
Mereka harusnya melihat keberhasilan pelaksanaan Pemilu sebelumnya. Kalaupun ada masalah, kemungkinannya tidak akan besar seperti pemilu yang lalu. “/Kayak/ orang maen bola saja, keributan kecil pasti ada, tapi tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya pasti. Menurut Aslim jika tetap mengkhawatirkan dampak pemilu maka dunia usaha akan lambat bergerak. “Masalahnya, begitu Pemilu usai, mungkin ada masalah-masalah lain yang datang menyusul. Kalau terus begini, kapan berusahanya,” katanya.
Sebelumnya, pengamat perbankan Elvyn G. Masassya mengungkapkan hal senada. Dalam diskusi panel di kampus STIE Perbanas minggu lalu selain mengungkapkan tingkat pencairan kredit yang masih rekatif rendah, dia juga mengungkapkan tingkat penggunaan kapasitas produksi yang relatif tidak mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yakni sekitar 40 persen.
Sebaliknya, Elvyn mengatakan, jumlah kredit baru yang disalurkan perbankan /(new loan originated)/ Januari-Desember 2002 mencapai hampir Rp 80 triliun atau meningkat sebesar 40 persen dibanding tahun 2001. Dia yakin, setelah proses rekapitalisasi selesai, sektor perbankan berupaya kembali menjalankan fungsi intermediasinya dengan mendorong penyaluran pinjaman secara lebih agresif.
Amal Ihsan — Tempo News Room
|