|
Prospek Industri Pertambangan Kian Suram
18 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Prospek industri pertambangan Indonesia kian suram. Hasil survei PricewaterhouseCoopers (PwC) menyatakan, kondisi investasi makin sulit dan tantangan yang dihadapi akan terus berlanjut tahun depan.
Spesilias pertambangan PwC, Marc Upcroft, di Jakarta, Selasa (18/11) mengatakan, investasi untuk tambang baru serta perluasan kapasitas berada pada tingkat yang sangat rendah. Hal ini terjadi dari tahun ke tahun, sejak krisis moneter terjadi di Indonesia.
Kendati harga beberapa jenis mineral membaik, berlanjutnya masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia, ditambah dengan ketidakpastian iklim perundang-undangan, berdampak pada pengurangan investasi. Menurutnya, investasi akan membaik hanya bila kepastian kondisi jangka panjang telah dipulihkan.
Dia mencontohkan, tambang emas, Mt Muro milik Indo Muro Kencana telah menghentikan produksi selama tahun 2002. Disusul tiga perusahaan tambang emas yang besar, mendekati tutup. Di sisi lain, tidak ada tambang emas baru yang signifikan yang sedang dikembangkan saat ini. Dua endapan nikel, yang besar dan belum dikembangkan hingga saat ini tetap belum dikembangkan, akibat berlanjutnya ketidakpastian izin kehutanan.
Tahun 2002, perusahaan eksplorasi dunia menempatkan Indonesia pada posisi yang buruk sebagai tempat untuk mengembangkan tambang, walaupun prospek mineralnya bagus. "Ini merupakan tanda yang mengembirkan bagi industri bagi pertambangan Indonesia, " kata dia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, mengakui terjadinya penurunan investasi pertambangan di Indonesia. Aktivitas eksplorasi menurun sejak tahun 1960-an. "Tapi kejadian serupa juga terjadi di dunia," kata dia.
Menurut Purnomo, penyebab penurunan investasi itu antara lain penurunan harga metal di pasar nasional maupun internasional. Di Indonesia, ada faktor lain yang membuat investasi stagnan yaitu Pajak Pertambahan Nilai (PPN), izin pertambangan di hutan lindung dan otonomi daerah. Namun, kata dia, sektor migas justru mengalami peningkatan. Ini dikarenakan sektor tersebut masih ditangani oleh pemerintah pusat, berbeda dengan sektor pertambangan yang telah didesentralisasikan.
Kendati demikian, Purnomo optimis investasi akan segera mebaik di Indonesia. Kuncinya adalah koordinasi dan birokrasi. karena itu ia mengajak semua pihak yang terkait untuk menghadapi tantangan secara bersama.
Retno Sulistyowati - Tempo News Room
|