|
Ekonomi Bisnis
Gudang Garam Investasi Pabrik dan Mesin Baru
12 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT. Gudang Garam Tbk. pada tahun 2004 menganggarkan 75 sampai 80 juta Euro untuk investasi pabrik baru dan mesin baru yang akan menggantikan mesin-mesin lama. Keduanya merupakan fasilitas untuk memproduksi rokok rendah tar dan nikotin.
"Dengan program pembaharuan mesin diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya tidak perlu lagi memakan biaya investasi yang besar lagi," kata Direktur sekaligus Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman dalam paparan publiknya di Gedung Bursa Efek Jakarta, (12/11).
Dengan anggaran investasi tersebut, kata Heru, terjadi peningkatan aktiva tetap Gudang Garam dari Rp 3,5 triliun pada septmber 2003 menjadi Rp 4,5 triliun pada akhir September 2003.
Sementara itu Gudang Garam menargetkan bisa mencapai target volume produksi hingga akhir tahun sebanyak 62 miliar batang, naik dibanding tahun lalu sebesar 61 miliar batang.
Menurut Heru, kinerja perseroan selama sembilan bulan pertama 2003 mencatat penjualan Rp 17,9 triliun atau naik dibandingkan September 2002 sebesar Rp 16,069 triliun.
Namun, karena pengaruh nilai tukar mata uang dan naiknya beban cukai sedangkan harga produk tetap membuat perolehan laba operasi mengalami penurunan dari Rp 2,64 triliun menjadi Rp 2,36 triliun. Sedangkan laba bersih turun dari Rp 1,6 triliun menjadi Rp 1,5 triliun.
Heru menjelaskan, beban cukai meningkat dari sebelumnya 68 persen menjadi 73 persen dari biaya pokok penjualan. Sedangkan beban bahan baku naik dari 22 persen menjadi 26 persen. Biaya tenaga kerja relatif stabil 2 persen dari biaya pokok penjualan.
Heru juga berharap pada tahun depan beban cukai tidak naik dan Gudang Garam bisa menaikkan harga yang bisa meningkatkan keuntungan perseroan. "Tapi sejauh ini kami belum memikirkan kenaikan harga," ujarnya.
Gudang Garam sendiri selama 2003 banyak mengeluarkan produk mild seperti merek Gudang Garam Nusantara dan Gudang Garam Signature.
Untuk pasar rokok mild, Heru mengaku Gudang Garam masih pemula. "Jadi untuk menyimpulkan produk kami gagal atau tidak masih terlalu dini, karena setidaknya butuh waktu dua tahun untuk bisa menyatakan gagal atau sukses," ujarnya.
Untuk penggabungan pangsa pasar sigaret kretek yangan (SKT) dan sigaret kretek mesin (SKM), Gudang Garam masih menempati urutan pertama dengan pangsa 37,2 persen, diikuti Djarum 19,1 persen, Sampoerna 19,1 persen, Bentoel 0,5 persen, dan lain-lain 24,1 persen.
Sampai akhir tahun 2003, laba bersih Gudang Garam diprediksi tidak akan berbeda dengan tahun 2002 alias flat.
Fitri Oktarini - Tempo News Room
|