|
Ekonomi Bisnis
BI Keluarkan Izin Pembekuan Rekening BNI
06 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution mengatakan Bank Indonesia sudah mengeluarkan surat izin pembekuan rekening Bank Negara Indonesia yang mengalirkan dana Rp 1,7 triliun melalui fasilitas letter of credit (L/C) palsu.
"Suratnya sudah saya teken," katanya di sela pengesahan Rancangan APBN 2004 di gedung parlemen, Kamis (6/11) malam. Menurut Anwar, izin pembekuan itu atas permintaan polisi kepada Bank Indonesia.
Dengan berbekal surat izin itu, kata Anwar, polisi bisa leluasa memeriksa aliran dana dari BNI cabang Kebayoran Baru kepada para tersangka pembobol rekening bank yang sahamnya sebagian besar dimiliki pemerintah itu.
Secara formal, lanjut Anwar, Bank Indonesia kini sedang memeriksa aliran dana tersebut. Namun, ia enggan mengungkapkan temuan awal yang diperoleh pihaknya. Yang jelas, katanya, pemeriksaan tidak saja pada rekening BNI, tapi juga pada rekening orang-orang yang diduga membobol kas bank itu. "Nanti diketahui ke mana saja uang itu mengalir," katanya.
Menurutnya, pemeriksaan rekening itu akan membantu polisi dalam mengungkap kasus ini. Temuan Bank Indonesia itu, Anwar berjanji, akan dibuka ke masyarakat jika sudah lengkap.
Anwar menolak anggapan bobolnya kas BNI itu akibat pengawasan Bank Indonesia yang lemah. Selama ini, katanya, setiap bank melaporkan kinerjanya setiap bulan dan Bank Indonesia memeriksanya setiap tahun. "Yang bilang seperti itu bodoh," katanya ketus. "Ini masalahnya BNI menggarong banknya sendiri."
Menurut Anwar, kasus ini terjadi karena karyawan BNI sendiri yang berkolusi dengan para tersangka yang mengajukan L/C itu. "Edi Santoso itu orang bermental garong," katanya. Edi Santoso adalah Kepala Pelayanan Konsumen Luar Negeri BNI cabang Kebayoran baru.
Anwar menyalahkan pengawasan internal yang lemah. "Pengajuan L/C itu masih dalam status walk in customer. Apa urusan BI di situ? Memangnya kami 24 jam duduk di situ?"
Dengan nada kesal, Anwar bahkan menyebut "bodoh" orang-orang yang mengatakan di media massa kasus ini karena pengawasan Bank Indonesia lemah. Meski begitu, katanya, BI kini sedang mengkaji pola pengawasan dan mempelajari kasus-kasus serupa yang terjadi di bank-bank Indonesia. Pasalnya, bukan kali ini saja kasus pembobolan itu terjadi.
Bank Indonesia juga kini sedang melakukan pemeriksaan terhadap para direksi BNI. "Pemeriksaannya tidak sekedar interview, dilihat bagaimana kinerjanya," katanya.
Pemeriksaan itu, kata Anwar, akan mempengaruhi reputasi para direksi dalam mengelola bank. Meski menolak mengungkapkan secara rinci, namun, katanya, pemeriksaan itu akan mengetahui bagaimana peranan orang per orang dalam kasus ini.
Ia menuding kasus ini terjadi karena ada kolusi di kalangan karyawan BNI cabang Kebayoran Baru sendiri. Menurutnya, seharusnya BNI sudah curiga karena pengajuan kredit itu untuk ekspor pasir ke Kenya. "Otaknya di mana coba," sergahnya.
Bagja Hidayat - Tempo News Room
|