|
Ekonomi Bisnis
Dana Pensiun dan Asuransi Borong Obligasi Pemerintah
04 November 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dana pensiun dan perusahaan asuransi memborong surat utang yang diterbitkan pemerintah senilai Rp 2,5 triliun, Selasa (4/11). Akibatnya, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 5,418 triliun atau mengalami kelebihan penawaran 2,17 kali.
Menurut Kepala Pusat Manajemen Obligasi Negara Fuad Rahmany kelebihan penawaran itu juga karena masuknya dana pensiun dan perusahaan asuransi meramaikan penjualan obligasi pemerintah dengan jangka waktu tujuh tahun itu. Pada lelang sebelumnya yang kurang bergairah penawar obligasi lebih banyak perusahaan sekuritas atau bank.
Dalam lelang dengan sistem Bank Indonesia yang dibuka pukul 10.00 WIB itu yield terendah yang masuk sebesar 11,75 persen dan tertinggi 15,00 persen.
Menurut Kepala Biro Humas Departemen Keuangan Maurin Sitorus yang memaparkan hasil lelang di kantornya, Menteri Keuangan menetapkan yield terendah yang dimenangkan sebesar 11,75 persen dan tertinggi 13,1 persen.
Sedangkan yield rata-rata tertimbang sebesar 12,92 persen dengan tingkat kupon 12 persen. Kata Maurin penetapan itu sesuai dengan Undang-Undang 24/2002 tentang Surat Utang Negara.
Alokasi pemenang kompetitif dalam lelang itu sebesar Rp 1,75 triliun dan pemenang nonkompetititf Rp 750 miliar. Obligasi pemerintah seri FR0024 itu diterbitkan tanggal 6 Nopember 2003 dan jatuh tempo 15 Oktober 2010.
Para pemenang lelang wajib menyerahkan dana (setelmen) sesuai hasil lelang pada 6 Nopember 2003 dan tanggal pembayaran kupon setiap tanggal 15 April dan 15 Oktober.
Lelang obligasi kali ini merupakan yang keempat dalam tahun ini setelah jumlahnya ditambah, sementara masih ada sisa obligasi yang belum dijual sebesar Rp 3,2 triliun.
Dalam pembahasan APBN Perubahan, DPR menyetujui pemerintah menambah jumlah obligasi sebesar Rp 4 triliun sehingga jumlah obligasi pemerintah yang akan dijual tahun ini sebesar Rp 11,7 triliun.
Menurut Fuad jumlah sisa obligasi yang belum diterbitkan itu akan dijual sebelum Natal 2003, namun tergantung situasi pasar saat itu. Begitupun dengan pemilihan jatuh tempo yang akan menunggu perkembangan pasar obligasi.
Mengenai pemilihan tenor tujuh tahun, kata Fuad, karena pasar menghendaki hal itu. "Sebetulnya kalau dana pensiun dan asuransi harusnya yang tenornya panjang karena mereka butuh dana jangka panjang," kata Fuad. Tapi, dua perusahaan itu tetap memborong obligasi yang dijual hari ini.
Pemerintah sendiri, kata Fuad, membutuhkan obligasi yang jatuh temponya panjang, sementara pasar menginginkan yang jangka pendek dan menengah. Menurutnya saat ini pasar obligasi kembali bergairah.
Selain masuknya pemain baru, sosialisasi yang gencar dinilai ikut andil dalam pelelangan kali ini, terutama dengan ikutnya dana pensiun dan asuransi. "Selain itu karena yield obligasi jauh lebih tinggi dari deposito. Saya kira ini faktor yang paling menentukan," ujar Fuad.
Menurutnya jika tingkat suku bunga Setifikat Bank Indonesia terus menurun yang menyebabkan penurunan bunga pasar maka yield obligasi juga bisa lebih rendah. "Sehingga biaya juga agak lebih rendah," katanya.
Sebab itu, meski tawaran yang masuk lebih dari yang ditargetkan, pemerintah tidak langsung melelang sisa obligasi yang belum dijual. "Ini menyangkut biaya juga," katanya.
Bagja Hidayat - Tempo News Room
|