TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Perhubungan Agum Gumelar, menyatakan bersedia menunda penandatanganan transaksi jual beli PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI).
Hal tersebut dinyatakan Agum dalam pertemuannya dengan Serikat Karyawan Telkom Divre IV Jawa Tengah dan Yogyakarta, Rabu (29/10) siang.
Menurut Juru Bicara Sekar M.Ismail, Agum menyatakan siap menunda penandatanganan transaksi antara MGTI dengan PT Alberta. “Agum Gumelar akan berusaha sementara ini untuk menunda transaksi jual beli MGTI,” ujar Ismail mengutip ucapan Agum. Selain itu, dari pertemuan tersebut Agum juga bersedia menjadi fasilitator dalam pertemuan antara Sekar Divre IV, Direksi Telkom dan Menneg BUMN. Menneg BUMN diikutsertakan karena kebijakan kementrian BUMN dalam kasus ini lebih besar dibandingkan kebijakan menteri perhubungan. Meskipun Ismail sendiri menyatakan tidak tahu secara pasti waktunya, kesepakatan tersebut akan diwujudkan. “Secepatnya akan direalisasikan,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Sekar Divre IV Jawa Tengah dan Yogyakarta Syahrul Akhyar, menyatakan sangat setuju dengan pertemuan yang akan diatur oleh Agum. Menurut Syahrul, pihaknya siap untuk mengadu konsep dan ide dengan dua pihak lainnya. “Kita harus bebas dari kepentingan pribadi, sehingga dalam presentasi nanti dapat ditemukan mana yang terbaik untuk negara,” ujar Syahrul.
Ketidaksetujuan Sekar Telkom Divre IV Jawa Tengah dan Yogyakarta atas pembelian MGTI oleh PT Alberta didasarkan pada kewajiban mencicil uang dalam bentuk dolar setelah pengoperasian PT MGTI. “Cicilan kewajiban itu kami anggap sangat besar,” jelas Syahrul. Menurutnya sistem yang dipakai saat ini,--MGTI beroperasi sendiri, lebih baik.
PT Alberta ketika membeli PT MGTI tidak bekerja melainkan hanya menunggu setoran dari PT MGTI. “Operasional MGTI dipastikan akan diserahkan ke PT Telkom dengan tambahan tugas setiap bulannya menambahkan cicilan sejumlah yang dipatok,” katanya. PT Alberta sendiri pada Rabu, (24/9) telah membeli sebanyak 30,55 persen saham PT Indosat pada PT MGTI senilai US$ 226 juta.
Selain itu pihak MGTI pun menyatakan akan membatalkan rencana mogok total yang rencananya dilakukan pada Oktober ini.
Listi Fitria/TNR