|
Ekbis
Skandal BNI Dominan Pengaruhi Pasar
29 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aslim Tadjuddin, menyatakan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada kisaran 1 persen, tidak akan banyak berpengaruh pada nilai tukar rupiah. “Sebaliknya, variabel domestik seperti kasus BNI justru akan lebih banyak berperan,” katanya ketika dihubungi Tempo News Room, Rabu (29/10) siang.
Menurut Aslim, kasus pembobolan kredit ekspor sebesar Rp 1,7 triliun di bank umum terbesar kedua di Indonesia itu bisa merusak kepercayaan pasar terhadap upaya privatisasi dan jelas akan mempengaruhi nilai tukar rupiah. “Kasus BNI, yang mewarnai seluruh surat kabar ekonomi luar negeri, justru yang paling berperan merusak kepercayaan pasar,” ujarnya.
Sebelumnya, Federal Open Market Committee, lembaga kebijakan dalam Bank Sentral AS, menyatakan akan tetap mempertahankan suku bunga sekitar 1 persen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS guna menyerap tenaga kerja. Sejak 2001, terdapat penambahan angka pengangguran sebanyak 2 juta orang di AS dan diperkirakan dibutuhkan satu sampai satu setengah tahun untuk menyerap mereka kembali.
Nilai tukar rupiah yang sempat melemah ke level Rp 8.580 per dolar AS dari semula Rp 8.555 kemarin, menurut Aslim, sebagian besar didorong oleh variabel domestik. “Sebagian juga karena ketidakpastian akibat kasus kerusuhan di Bali dan Poso, walaupun pengaruhnya tidak besar,” katanya
Walaupun demikian, Aslim mengakui tetap ada pengaruh pengumuman The Fed terhadap menguatnya dolar yakni timbulnya optimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang pada kuartal III naik 3,9 persen dari semula 3,3 persen pada kuartal II. “Hal ini memicu keyakinan terhadap dolar AS,” ujarnya.
Tetapi, dalam pandangan Aslim, penguatan dolar AS ini tidak akan berujung pada melemahnya rupiah terjadi apabila tidak didorong oleh variabel yang melemahkan dari dalam negeri. Ini dibuktikan dengan situasi mata uang regional seperti Yen Jepang, Won Korsel dan Baht Thailand yang justru menguat.
Sementara itu, mata uang regional yang melemah seperti Rupiah, Peso Filipina dan Dolar Singapura, kata Aslim, dipicu juga oleh variabel domestik. Peso misalnya, melemah akibat krisis politik impeachment kongres terhadap ketua Mahkamah Agung, Hilario Davide. “Kecuali mungkin Singapura yang banyak didorong varibel eksternal yakni penguatan dolar,” katanya.
Tetapi ini bukan berarti tidak ada faktor-faktor penguat dari dalam negeri. Menurut Aslim, kesuksesan penawaran perdana saham Bank Rakyat Indonesia (BRI), setidaknya bisa sedikit membantu memulihkan kepercayaan investor. Apabila berhasil, pemerintah akan memperoleh US$ 400 juta sampai US$ 500 juta dari penjualan 45 persen kepemilikan BRI, yang akan menjadi penawaran terbesar sejak krisis 1997-1998.
Oleh karenanya Aslim juga menyatakan pihak BI tetap tidak akan melakukan intervensi pasar walaupun rupiah terus melemah terhadap dollar AS. “Kita terus memantau situasi. Tetapi sampai saat ini, rupiah masih berada dikisaran yang aman,” katanya.
Menurut Aslim, Bank Indonesia melihat kisaran rupiah yang aman berada pada besaran Rp 8.200-Rp 8.700 per dolar AS. Pada kisaran ini, rupiah akan cukup efektif mencegah naiknya inflasi. “Dan pada kisaran ini rupiah juga tidak akan mengurangi daya saing dan merugikan pelaku ekonomi kita,” ujarnya.
Dalam pandangan Aslim, selama rupiah berada pada kisaran yang aman tersebut, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi apabila kemudian rupiah terus melemah sampai jauh dibawah Rp 8.700 per dolar AS, barulah pihak BI akan memikirkan langkah-langkah serius untuk mengatasinya. “Walaupun kemungkinannya kecil,” katanya.
Menurut Aslim, kebijakan The Fed menekan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS, juga tidak perlu dikhawatirkan karena sejalan dengan kebijakan serupa di Indonesia. “Kita juga punya kebijakan serupa dengan menekan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sekitar 8 persen sapai 8,5 persen,” ujarnya.
Kebijakan ekspansif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi AS, kata Aslim, diharapkan juga akan dapat membawa pengaruhnya kepada upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Prediksi kita, pertumbuhan rata-rata sampai akhir Oktober kita harapkan mencapai 4,14 persen. Lebih tinggi dari prediksi semula yang 3-4 persen,” katanya.
Amal Ihsan — Tempo News Room
|