Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi Bisnis

Subsidi BBM 2004 Rp 14,5 Triliun
28 Oktober 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah dan Panitia Anggaran memutuskan subsidi BBM untuk APBN 2004 sebesar Rp 14,5 triliun. Dirjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Iin Arifin Takhyan mengungkapkan hal itu usai rapat kerja di Panitia Anggaran, di DPR, Selasa (28/10).

Menurutnya, peningkatan subsidi itu disebabkan kenaikan harga minyak di pasar dunia yang menambah pemasukan bagi pemerintah. Semula dalam nota keuangan asumsi harga minyak sebesar US$ 21 per barel, sedangkan dalam pembahasan dengan Panitia Anggaran berubah menjadi US$ 22 per barel. Selain itu kenaikan subsidi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti prediksi tentang pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk.

Sedangkan volume konsumsi BBM tahun ini ditetapkan 60 juta kiloliter, turun dari yang diajukan pemerintah sebesar 63 juta kiloliter. Tahun lalu realisasi konsumsi hanya 58,2 juta kiloliter, turun dari yang ditargetkan sebesar 60 juta kiloliter.

Sebenarnya, kata Iin, pemerintah memperkirakan volume konsumsi yang lebih besar lagi karena pertumbuhan ekonomi. Namun pemerintah berupaya untuk menekan volume konsumsi dan BBM, sehingga subsidi tidak membengkak.

Menurut Iin, penetapan angka-angka tersebut sifatnya belum pasti karena baru mendapat persetujuan di Panitia Anggaran. Hasil kesepakatan itu akan dibawa ke rapat paripurna DPR untuk dibahas kembali. “ Jadi masih ada kemungkinan untuk direvisi,” katanya.

Sementara itu Kepala Badan Analisa Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu mengatakan peningkatan subsidi BBM tidak mengubah atau mengurangi subsidi dari sektor lain. Sebaliknya pemerintah justru menambah anggaran untuk subsidi. Namun ia memastikan defisit RAPBN 2004 tidak membengkak.

Pemerintah berupaya melakukan penghematan di pos-pos anggaran lain misalnya anggaran di sektor listrik dan pangan yang dikurangi sedikit. Selain itu pemerintah berharap dengan naiknya harga minyak dunia memberikan tambahan pemasukan ke kas negara. “Jadi ada wind fall profit,” katanya.

Retno Sulistyowati/Dhian N Utami - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Departemen Kesulitan Hapus Subsidi Minyak 2004
Pemerintah Mengusulkan Harga Tetap BBM 2004
Conoco Philips dan BP Bersedia Kurangi Dana Jaminan
Pemerintah Berikan Penghargaan untuk Perusahaan Pertambangan
Konvensi IPA Dibuka

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data