TEMPO Interaktif, Jakarta:Manajemen PT Semen Padang akan segera melakukan restrukturisasi keuangan untuk menghindari kebangkrutan akibat kesulitan keuangan.
Kepala Biro Humas PT Semen Padang Benny Wendry mengatakan, kondisi Semen Padang saat ini memang memprihatinkan. Pada laporan keuangan perusahaan itu Juni lalu aktiva lancar perusahaan tercatat Rp 470 Miliar, sementara kewajiban lancar perusahaan sebesar Rp 667,9 Miliar. Dengan demikian, kewajiban yang harus dibayarkan lebih tinggi dibanding kemampuan untuk membayar.
Current ratio atau perbandingan aktiva lancar dengan
hutang lancar Semen Padang juga berada pada angka
70,38 persen. Padahal, perusahaan yang baik seharusnya berada pada posisi lebih dari satu. Kondisi ini menyebabkan modal kerja perusahaan minus Rp 198 miliar.
Perusahaan juga mencatat piutang dagang sebesar Rp 179
miliar. Piutang ini diberikan tanpa adanya jaminan
perbankan yang memadai, terutama pada distributor. Utang lancar perusahaan tercatat sebesar Rp 240 miliar.
Menurut Benny, Semen Padang juga masih memiliki utang
jangka pendek dan jangka panjang kepada sejumlah
lembaga perbankan yang harus diselesaikan secepatnya.
Angkanya berada di posisi Rp 464 miliar, sementara
dana yang ada di kas saat ini tercatat hanya Rp 55
miliar.
Keseluruhan utang-utang tersebut belum termasuk kewajiban membayarkan deviden kepada pemegang saham yang mencapai Rp 79 Miliar. Deviden ini menumpuk, karena sejak 1996 peruisahaan tak pernah membayarkan deviden kepada pemegang saham. Selama ini, kewajiban-kewajiban tersebut ditalangi PT Semen Gresik Tbk sebagai pimpinan holding. “Bila dibiarkan seperti ini, akhir tahun ini
kondisinya akan semakin suram,” kata Benny.
Febrianti / TNR