TEMPO Interaktif, Jakarta:Eksport gas alam cair (LNG) Indonesia ke Meksiko terbentur pada masalah harga karena pemerintah mematok harga sekitar US$ 4 per mmbtu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, mengungkapkan hal itu usai penandatangan nota kesepahaman tentang pembangunan PLTU batubara, di Jakarta, Kamis (23/10). Menurutnya, penetapan harga itu didasarkan atas harga gas sekarang berlaku di pasar domestik dan pasar Meksiko.
Pemerintah berkeinginan, harga gas yang akan diekspor ke Meksiko berada di atas harga jual untuk dalam negeri sebesar US$ 2,5 per mmbtu. "Itu harus, karena kalau tidak pemerintah pasti akan diprotes," kata Purnomo. Sementara harga jual LNG di pasar Meksiko saat ini telah mencapai US$ 5-6 per mmbtu.
Dikatakannya, pemerintah akan membuat suatu range harga dengan menetapkan batas atas dan batas bawah. Alternatif itu tampaknya lebih bisa diterima oleh Meksiko. Ia mencontohkan, sebagai patokan adalah harga gas dari Ladang Tangguh di Papua sebesar US$ 2,45 per mmbtu, ditambah biaya transportasi sehingga harga menjadi US$ 3,5 per mmbtu. Namun, pemerintah tidak bersedia bila harga ditetapkan sebesar US$ 3,5 per mmbtu. "Kita maunya US$ 4 per mmbtu, kalau bisa lebih," kata dia.
Saat ini tim dari Meksiko datang ke Indonesia. Dua perusahaan gas terbesar dari negara itu, Chevron dan Sempra mengadakan pembicaraan dengan Badan Pelaksana Sektor Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) dan Pertamina untuk membicarakan kelanjutan jual beli gas itu.
Menurut Purnomo, mengenai volume tidak menjadi masalah, karena Indonesia mampu memenuhi kebutuhan gas Meksiko yang mencapai 6 juta ton per tahun. Permasalahan terjadi pada penetapan harga.
Sebelumnya, dalam pertemuan antara menteri ESDM dengan delegasi Meksiko, disela pertemuan APEC, di Bangkok beberapa waktu lalu, Meksiko masih ingin melihat lokasi sumber gas terlebih dulu. Selama ini pemerintah menawarkan Ladang Gas Tangguh di Papua dan Donggi di Kalimantan Timur. Kemungkinan Meksiko memiliki tulisan lain atas sumber-sumber gas yang ada di Indonesia.
Menurut Purnomo, bila terjadi perubahan lokasi sumber gas, itu berarti pembangunan lapangan akan molor dari jadwal semula. Rencananya ladang gas Tangguh akan mulai dibangun akhir tahun ini. Namun karena pembeli belum memilih sumber gas secara pasti, dimungkinkan pembangunan menjadi molor. "Namun kepentingan Indonesia adalah mengirim gas. Makin cepat lokasi ditentukan lebih baik, karena kontrak lebih cepat ditandatangani dan ladang bisa cepat dibangun," kata dia. Selain itu, ketepatan waktu itu mempengaruhi juga proses pengembangan lapangan gas yang ada," katanya.
Di pasar Meksiko itu, saingan Indonesia berkurang. Bolivia misalnya tidak bisa masuk lagi karena ada masalah politik dengan Meksiko. Sedangkan keberadaan Shell tidak menjadi masalah, mengingat kebutuhan gas Meksiko besar sekali.
Pemerintah berharap, akhir tahun ini kerjasama jual beli gas itu sudah bisa ditandatangani. Saat ini delegasi kedua negara tengah membicarakan tentang head of aggrement. "Bila bisa diteken tahun ini, menjadi pertanda dalam peringatan 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Meksiko," katanya.
Retno Sulistyowati/TNR