TEMPO Interaktif, Jakarta:Naiknya harga-harga saat ini hanya karena faktor psikologis, sebagaimana biasanya setiap menjelang Bulan Puasa.
Hal tersebut dikatakan Kabulog Widjanarko Puspojo di Jakarta, Rabu (22/10) siangt. Widjanarko memastikan harga bahan pangan akan segera stabil kembali dalam waktu dekat, karena stok yang ada masih banyak dan cukup digunakan sampai akhir tahun 2003 ini.
Ia menyebutkan, stok beras masih ada sebesar lebih dari 2 juta ton. Cadangan itu, bisa digunakan sampai 11 bulan ke depan, sedangkan stok gula masih sekitar 600 ribu ton sehingga cukup hingga akhir tahun.
Menurut Widjanarko, Bulog belum perlu melakukan operasi pasar pada saat, kendati lonjakan harga terjadi. Operasi pasar hanya akan dilakukan bila kenaikan harga terjadi sangat signifikan. Misalnya, beras yang sekarang harganya Rp 2.800 perkilo, naik menjadi Rp 4.000 perkilo. "Terlalu dini untuk bicara tentang operasi pasar. Tapi mudah-mudahan itu tidak diperlukan," kata dia.
Widjanarko menilai, kebijakan pemerintah yang sengaja tidak menutup kran import beras. Juga mendukung agar lonjakan harga tidak terjadi dalam waktu yang lama. Ia yakin membanjirnya beras di pasar, bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. "Kecuali bila tiba-tiba ada kebijakan lain dari pemerintah untuk menutup import. Tapi saya belum mendengar rencana itu, paling tidak untuk tahun ini," kata dia.
Sementara itu, dalam rapat kerja dengan panitia anggaran DPR dan Bulog, dibahas tentang subsidi beras untuk masyarakat miskin (raskin). Pada nota keuangan pemerintah, raskin diusulkan sebesar Rp 5,35 triliun. Subsidi itu rencananya akan diberikan pada sekitar 8,3 juta kepala keluarga.
Kabulog berharap, DPR menyetujui usulan tersebut. Ini penting, terutama untuk mengantisipasi bencana Elnino dan banjir yang diperkirakan akan terjadi tahun depan. Diprediksi, kota-kota besar termasuk Jakarta akan tertimpa bencana tersebut. Karena itu pemerintah harus mengantisipasinya melalui subsidi raskin dengan jumlah yang cukup.
Masyarakat yang diberikan subsidi raskin tahun depan sebanyak 8,3 juta KK, lebih besar daripada yang disubsidi pada tahun ini sebanyak 8,2 juta KK. Sedangkan subsidi tahun 2002 juga diberikan kepada 8,7 juta KK. Menurut Widjanarko, subsidi itu memang menurun dari tahun 2002. Ini dikarenakan harga pokok beras dan bunga bank mengalami kenaikan. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pembelian beras juga naik. ''Tetapi subsidi tahun depan tetap mengalami peningkatan dari pada tahun ini, meskipun tipis hanya 6,2 persen," kata dia.
Retno Sulistyowati/TNR