|
Ekonomi Bisnis
Kebutuhan Beras akan Dipenuhi Melalui Impor
21 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah memperkirakan akan terjadi defisit kebutuhan beras menjelang puasa hingga tahun baru. Berdasarkan data terbaru Departemen Pertanian, konsumsi beras pada Oktober, November, dan Desember yakni juta 6,76 juta ton. Padahal produksi beras pada periode yang sama hanyalah 3,79 juta ton.
Kendati demikian, pemerintah akan berusaha menutupi tingkat kebutuhan yang melonjak pada akhir tahun itu dengan pasokan dari Bulog dan penggilingan padi pada sentra-sentra beras. “Lagipula beras impor bulan-bulan sebelumnya yang distok pedagang juga masih bisa digunakan,” kata Menteri Pertanian Bungaran Saragih usai meninjau Pasar Induk Beras Cipinang kemarin.
Optimisme Bungaran itu diiringi dengan jaminan harga beras yang stabil menjelang dan setelah akhir tahun ini. Keyakinan Bungaran ini juga didukung harga beras yang sama dari awal bulan hingga kemarin. Data PT Food Station Tjipinang Jaya, pengelola pasar induk, membuktikan bahwa pasaran beras untuk tiap tingkatan kualitas amat stabil.
Untuk beras dengan mutu tinggi seperti Cianjur Kepala, bertahan pada harga Rp 4.600 sejak tanggal 1 Oktober hingga hari ini. Pada periode yang sama, Cianjur Slyp dipasarkan pada harga Rp 4.100, Setra Rp 3.800, dan Saigon Bandung Rp 3.250.
Sementara, jenis beras mutu lebih rendah seperti Muncul I, II, dan II masing-masing dijual dengan harga Rp 2.900, Rp 2.700, dan Rp 2.600. Untuk jenis IR 64 I, II, dan III bertahan pada harga Rp 2.850, Rp 2.700, dan Rp 2.450. Jenis IR 42 dipasarkan dengan harga Rp 2.450.
Pada kesempatan terpisah Manajer Food Station Soenardi menjamin distribusi tidak akan seret meski terjadi gangguan cuaca maupun peningkatan arus lalu lintas. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, komitmen pedagang Cipinang untuk mendistribusikan ke daerah Jabotabek dan sekitarnya sangat terjamin. “Nggak ada pengalaman kita kurang beras,” ujarnya.
Selain beras, perkiraan defisit bulanan juga terjadi untuk produk minyak goreng. Stok Oktober hingga Desember berkisar 2,21 juta ton. Sebanyak 1,56 juta ton untuk kebutuhan ekspor. Sisanya sekitar 680 ribu ton. Padahal tingkat kebutuhan untuk bulan-bulan yang sama mencapai 743 ribu ton.
Namun, kata Bungaran, kekurangan itu bisa ditutupi oleh stok yang tersedia pada September dan ekspor minyak yang mencapai 450 ribu ton per bulan. Hanya saja, kata Bungaran, karena harga minyak sawit (crude palm oil-CPO) di pasaran dunia tengah meningkat, kemungkinan akan mempengaruhi harga minyak dalam negeri. Sayangnya Bungaran tidak memiliki data tingkat konsumsi maupun produksi untuk akhir tahun.
Untuk produk-produk lainnya, Deptan menjamin pasokan cukup baik. Misalnya cabe merah yang tingkat konsumsinya selalu naik menjelang hari raya, memiliki tingkat produksi yang melebihi kebutuhan. Tingkat konsumsi pada Oktober hingga akhir tahun mencapai 132 ribu ton. Sementara, produksi pada bulan-bulan yang sama berkisar 138 ribu ton. Pasokan bawang merah pun berstatus aman. Tingkat kebutuhan bawang merah mencapai 132 ribu ton, dengan tingkat produksi 149 ribu ton.
Stok gula pasir menjelang Ramadan hingga akhir tahun juga dipastikan cukup. Berdasarkan pantauan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, hingga kemarin masih tersedia 1,03 juta ton gula di gudang-gudang PTPN. Pada Oktober ini, penggilingan mampu menghasilkan 430 ribu ton gula yang diikuti 207 ribu ton pada Desember. Pasokan sebanyak ini akan mampu menutupi kebutuhan selama tiga bulan terakhir yang berkisar 825 ribu ton.
Sri Wahyuni - Tempo News Room
|