|
Ekonomi Bisnis
MMS Lintas Operator Diluncurkan Tanpa Telkomsel
21 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Fasilitas pesan multimedia (multimedia messaging service-MMS) lintas operator akan diluncurkan Kamis depan (23/10) tanpa melibatkan PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Ketiga operator telekomunikasi seluler yang telah menyepakati MMS lintas operator adalah PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo), PT Excelcomindo Pratama (Excelcom), dan PT Indosat Multimedia Mobile (IM3).
Direktur Produk dan Pelayanan Pelanggan Satelindo Wimbo S. Hardjito mengatakan hanya ketiga operator ini yang menyepakati pola pembagian pendapatan dari fasilitas MMS. Pola yang dipergunakan adalah selama enam bulan masa percobaan akan menggunakan konsep sender keeps all. Selanjutnya, akan menggunakan pola terminasi. “Kami jalan bertiga saja, karena yang satu tidak mau,” kata Wimbo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (21/10).
Dengan konsep sender keeps all, operator yang dipergunakan oleh pengirim pesan akan menerima seluruh pendapatan MMS. Sementara apabila menggunakan konsep terminasi, operator pengirim maupun penerima akan mendapatkan bagian pendapatan. Namun menurut Wimbo, hingga saat ini belum disepakati berapa bagian pendapatan dari masing-masing operator. Nantinya, apabila pola terminasi telah diterapkan, tarif MMS kemungkinan besar akan dinaikkan. “Harga saat ini kan harga sosialisasi,” katanya.
Meskipun saat ini lintas operator MMS hanya melibatkan tiga operator, kata Wimbo, tidak tertutup kemungkinan Telkomsel untuk bergabung. Syaratnya, Telkomsel harus mengikuti pola yang telah disepakati. Menurutnya, kerjasama MMS lintas operator akan semakin meningkatkan trafik MMS yang selama ini masih tergolong rendah.
General Manager Roaming Internasional dan Interkoneksi Telkomsel Achmad Santosa mengatakan trafik MMS saat ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan trafik pesan pendek (SMS). Oleh karena itu, dia berharap kerjasama lintas operator saat ini lebih ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan mengenalkan fasilitas ini ke masyarakat. “Jangan bicara bisnis dulu. Enam bulan kemudian baru kita evaluasi pola kerjasama apa yang akan kita pergunakan,” katanya.
Menurut Achmad, untuk menentukan pola pembagian pendapatan MMS lintas operator, tergantung dari pola trafik antar operator. Dengan melihat pola trafik MMS, akan dapat ditentukan pembagian pendapatan yang adil secara bilateral. “Jadi pembagian pendapatan bisa berbeda-beda tergantung pola trafiknya,” katanya.
Apalagi, secara internasional masih belum ada standar pola kerjasama MMS lintas operator. Oleh karena itu Achmad mengusulkan, selama enam bulan kerjasama lintas operator tetap menggunakan pola sender keeps all, selanjutnya baru ditentukan pola bagi hasil yang adil.
Telkomsel, kata Achmad, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan pola terminasi. Namun menurutnya, pola sender keeps all adalah pola yang paling mudah diterapkan. “Telkomsel akan ikut kalau dari awal tidak ada keharusan untuk mengikuti konsep tertentu,” katanya.
Trafik MMS saat ini baru mencapai sekitar 350 ribu pesan per bulan. Masih jauh dibandingkan trafik SMS yang sudah lebih dari 20 juta pesan per hari. Hal ini disebabkan masih mahalnya harga telepon seluler yang memiliki fasilitas MMS dan belum populernya fasilitas ini di masyarakat. Untuk Satelindo, saat ini pelanggan MMS-nya telah mencapai sekitar 1.200 pengguna.
Sapto Pradityo - Tempo News Room
|