TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia tercatat sebagai negara pembajak komputer terbesar ketiga di dunia setelah Vietnam dan China.
Pembajakan itu bukan hanya dalam hal piranti lunak tetapi sekaligus perangkat kerasnya. Hingga saat ini, dari seluruh produk komputer yang beredar di Indonesia, 88 persen diantaranya merupakan produk bajakan. "Dari 10 komputer yang dipakai masyarakat Indonesia, hanya satu unit yang asli, sedang selebihnya adalah bajakan," ujar Megawati Khie, salah seorang direktur dari Microsoft ndonesia dalam sebuah acara seminar Hak Kekayaan Intelektual (Haki) di Solo.
Bila saja tingkat pembajakan tersebut bisa ditekan 10 persen saja, negara akan mendapatkan kontribusi dari pendapatan pajak paling tidak sebesar USD$ 100 juta. Belum lagi tenaga kerja ahli di bidang komputer yang bisa terserap juga menjadi jauh lebih besar.
Untuk menangkal pembajakan, Microsoft Indonesia kini tengah menjalin kerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) untuk memperluas jaringan produk-produk asli. Dengan begitu masyarakat mudah mendapatkan produk-produk asli, sebaliknya pengusaha komputer pun memperoleh keuntungan..
"Lewat kerja sama ini, pihak Microsoft Indonesia memberikan pelatihan-pelatihan secara gratis kepada pengusaha komputer yang mampu menjual produk asli dalam jumlah tertentu," ujar Megawati.
Menjawab pertanyaan kecenderungan masyarakat Indonesia yang memilih harga murah, sehingga mereka membeli produk bajakan ketimbang produk asli yang relatif lebih mahal, menurut Megawati, hal itu lebih dilatari tingkat apresiasi yang terbatas. Persoalan harga ini, sebenarnya sangat bergantung pada pemanfaatan bagi pemakai itu sendiri. Optimalisasi manfaat yang bisa diperoleh dari produk-produk asli inilah menurutnya, yang sering luput dari pertimbangan masyarakat dalam menentukan pilihan.
Karenanya, dalam waktu dekat ini Microsof Indonesia akan lebih berupaya untuk mengarahkan masyarakat akan apresiasi serta edukasi.
imron rosyid/TNR