|
Ekonomi Bisnis
Pemerintah Optimis Ekspor 2004 Meningkat
15 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Keuangan Boediono menyatakan pemerintah optimis pertumbuhan ekspor tahun depan akan meningkat dan oleh karena itu asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga meningkat dari asumsi yang sudah ada.
“Kita tingkatkan sedikit dari 4,5 persen yang sudah ada,” kata Boediono ketika dicegat wartawan di Kantor Pusat Departemen Keuangan, Jakarta, Rabu (15/10) malam.
Menurut Boediono, pemerintah optimis pertumbuhan ekspor akan dapat meningkat melihat beberapa komoditi seperti tekstil, pakaian jadi, dan komoditas pertanian seperti, CPO dan karet. “Itu kan bagus perkembangan ekspornya,” ujarnya.
Walaupun demikian, Boediono menolak mengkonfirmasi besaran perubahan angka pertumbuhan dari yang semula 4,5 persen tersebut. Belum dapat dipastikan, perubahan angka pertumbuhan itu akan menjadi 4,8 persen.
“Angkanya belum final, baru akan kita bahas nanti di rapat pleno Panitia Anggaran,” ujarnya, sembari memasuki ruangan di lantai satu Kantor Pusat Depkeu.
Analisis berbeda justru ditunjukkan oleh ahli statistik dari BPS yang tergabung dalam central for statistical services (CSS). Menurut mereka, pertumbuhan ekspor pada tahun 2004 justru akan turun 0,68 persen.
Perkiraan ekspor tahun 2004 diduga mencapai US$ 60,9 miliar atau turun sebesar 0,68 persen dari perkiraan total ekspor tahun 2003 yang mencapai US$ 61,3 miliar. “Ini dikarenakan terjadi penurunan ekspor migas dari US$ 13,2 miliar sejak tahun 2003 menjadi US$ 12,8 miliar pada tahap 2004,” kata Dantes Simbolon, peneliti dari CSS.
Penurunan nilai ekspor migas ini disebabkan harga minyak tahun 2004 diprediksi akan turun karena pemulihan kembali ekspor minyak Irak dan peningkatan kapasitas produksi anggota OPEC maupun nonanggota. Kembalinya ekspor minyak tersebut dan meningkatnya kapasitas produksi negara eksportir minyak akan membuat harga minyak dunia menjadi lebih rendah.
Menurut Dantes, peningkatan kompetisi suplai minyak dari negara-negara eksportir minyak baik anggota OPEC maupun yang bukan anggota akan membawa harga minyak bergerak turun. Namun, hingga akhir tahun ini harga minyak diperkirakan masih akan berada di level yang sama dengan saat ini. “Walaupun ini tergantung pada disipilin OPEC dalam mematok tingkat produksi dan masih terganggunya suplai minyak dari Venezuela, Irak dan Nigeria,” ujarnya.
Sementara itu, produksi minyak Indonesia diperkirakan pada tahun 2004 akan mencapai 1,1 miliar barel per hari dan dengan harga minyak US$ 21 per barel diharapkan nilai produksi minyak mentah akan mencapai US$ 24,15 miliar. Sedangkan ekspor akan mencapai US$ 4,6 miliar atau turun sebesar 28,65 persen dari nilai ekspor 2003 yang diperkirakan akan mencapai US$ 6,4 miliar.
Asumsi harga minyak sebesar US$ 21 per barel pada tahun 2004 masih lebih rendah dibanding asumsi harga tahun 2003 yang pada kenyataannya sampai dengan bulan Agustus tahun ini, harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional mencapai US$ 28,43 per barel.
Selain itu, penurunan ekspor juga terjadi pada ekspor hasil pertanian, hasil industri, dan nonmigas lainnya, walaupun tidak signifikan. “Secara umum ekspor nonmigas yang pada tahun 2003 mencapai US$ 48,1 miliar akan turun menjadi US$ 48,0 miliar,” kata Dantes.
Perhitungan ini, kata Dantes, mengacu pada realitas perkembangan terakhir ekspor Indonesia dan menimbang asumsi-asumsi yang akan terjadi pada tahun 2004 yang akan datang di mana akan terjadi pemilu untuk memilih wakil rakyat serta presiden dan wakil presiden.
“Ini akan menyebabkan produksi ekspor nonmigas akan sedikit terganggu akibat masalah-masalah teknis seperti kesulitan dalam transportasi dan lainnya akibat pemilu,” kata Dantes.
Amal Ihsan - Tempo News Room
|