|
Ekonomi Bisnis
BI Tidak akan Menaikkan Bunga SBI
10 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Walaupun posisi base money atau uang primer sampai akhir triwulan III 2003 yang mencapai Rp 136 triliun sudah melebihi target jumlah uang primer yang sebesar Rp 1341,1 triliun, Bank Indonesia (BI) tidak akan mengeluarkan kebijakan menaikkan suku bunga.
Demikian dinyatakan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aslim Tadjuddin kepada wartawan seusai shalat jumat di masjid BI, Jakarta, Jumat (10/10).
Menurut Aslim, posisi uang primer per 30 September 2003 yang tercatat sebesar Rp 136,47 triliun atau naik sekitar Rp 16,4 triliun dari posisi awal tahun sebesar Rp 120 triliun, disebabkan faktor musiman berupa kembalinya uang kartal ke sistem perbankan pada minggu ketiga setiap bulannya, serta penurunan saldo giro perbankan.
Uang kartal terdiri atas uang kertas dan uang logam yang berlaku, tidak termasuk uang kas pada Kantor Perbendaharaan Kas Negara dan bank-bank umum. Sedangkan uang primer atau base money adalah uang kertas dan uang logam yang berada di luar Bank Indonesia dan Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN), yang dimiliki oleh bank umum dan sektor swasta, serta simpanan giro bank umum dan sektor swasta (penduduk) pada Bank Indonesia.
Walaupun tingginya tingkat uang primer biasanya terkait dengan tingkat inflasi yang tinggi, tetapi dalam pandangan Aslim, tidaklah selalu demikian. Biasanya, menurut Aslim, pada minggu terakhir tiap bulan dan minggu pertama tiap bulan base money naik karena pembayaran gaji oleh pemerintah dan sektor usaha.
“Gaji yang biasanya dibayarkan pada akhir bulan, sebelum dibayarkan di taruh dulu di bank. Baru pada minggu ketiga itu turun. Itu seasonal base money. Sudah polanya seperti itu,” katanya.
Adapun meningkatnya uang primer yang berarti juga peningkatan inflasi, dalam pandangan Aslim, menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. “Kalau dilihat tahun-tahun sebelumnya, seperti puasa, lebaran, natal, dan tahun baru tingkat uang primer akan meningkat karena masyarakat ketika itu membutuhkan uang,” katanya.
Adapun tingkat inflasi tahun 2004 yang diperkirakan akan mencapai sekitar 6-7 persen, menurut Aslim, juga tidak bisa diatasi dengan menaikkan tingkat suku bunga karena menaikkan tingkat suku bunga SBI berarti akan menghambat upaya peningkatan penyaluran kredit oleh perbankan yang lebih besar lagi kepada sektor riil.
“BI dan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 4 persen tahun depan. Karenanya penting untuk menjaga tingkat suku bunga yang rendah agar penyaluran kredit oleh perbankan kepada sektor riil dapat menjadi lebih besar lagi. Sektor riil yang tumbuh dan bergerak akan menyerap tenaga kerja dan menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi,” urai Aslim.
BI sendiri menetapkan target indikatif uang primer sebesar Rp 134,1 triliun. Target rata-rata uang pimer tersebut, menurut Aslim, ditentukan dengan mengambil rata-rata jumlah uang primer selama 15 hari dalam sebulan. Data tersebut lalu dibandingkan dengan data perkembangan uang primer selama 15 hari bulan berikutnya. “Dari situ kita tentukan target uang primer,” katanya.
Amal Ihsan — Tempo News Room
|