TEMPO Interaktif, Jakarta:Nilai tukar rupiah akan mencapai Rp 8.500 akhir tahun. Dan negara bisa menghemat Rp 1,5 triliun dari penguatan itu.
Ketua Panitia Anggaran Abdullah Zainie menilai perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2003 positif. Hal itu terlihat dari angka-angka realisasi APBN menunjukan peningkatan dibanding asumsi-asumsi yang dipatok pada pembahasan 2002 lalu.
Nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 8.784 pada realisasi hingga 31 Mei, menurut Zainie, akan mengurangi pembayaran utang pokok maupun bunganya. Rapat panitia anggaran dengan pemerintah, Kamis (19/6) di Gedung MPR/DPR Jakarta, diperkirakan nilai tukar rupiah akan mencapai Rp 8.500 hingga akhir tahun. Tahun ini pemerintah diwajibkan membayar utang luar negeri berikut bunganya sebesar US$ 3 miliar. Dengan menguatnya rupiah itu, kata Zainie, "Negara menghemat Rp 1,5 triliun."
Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia yang mengalami penurunan 2,3 persen juga menguntungkan pemerintah untuk membayar bunga utang obligasi. Menurut Zainie setiap penurunan satu persen SBI akan menghemat pembayaran bunga utang sebesar Rp 2 triliun. Karena itu hingga kwartal II ini pemerintah sudah menghemat Rp 4 triliun.
Harga minyak yang naik menjadi US$ 25,8 per barel dari asumsi US$ 22 per barel, kata Zainie, akan menghasilkan kenaikan setiap 1 US$ sebesar Rp 2 triliun. Sehingga akibat kenaikan sebesar US$ 3,8 itu pemerintah akan menerima tambahan kenaikan lebih dari Rp 6 triliun. "Nettonya akan kita lihat pada berapa subsidi bahan bakar minyak pada 2003," katanya di Gedung MPR/DPR Jakarta, Kamis (19/6).
Itu dari sisi pembelanjaan. Dari segi penerimaan, menurut Zainie, penerimaan dari minyak sebesar Rp 8.500 per barel. Meski penerimaan turun dari asumsi yang dipatok dalam APBN, harga minyak dunia mengalami kenaikan, selain ekspor minyak yang juga naik. "Volume minyak mentah dan ekspor kan naik, jadi penerimaan tetap naik," katanya.
Penerimaan bruto dari bunga obligasi bank mengalami penurunan karena SBI yang turun dari 13 persen asumsi APBN menjadi 10,7 persen. "Dari situ nanti akan dilihat berapa nettonya," katanya. Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menyambut baik makin menurunnya tingkat suku bunga SBI.
Menurut Burhanuddin penurunan SBI yang kemarin mencapai 9,7 persen sangat diharapkan oleh pasar untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit. Sehingga kondisi ini memungkinkan sektor riil menyerap dana yang tersedia di bank untuk menggerakan roda ekonomi. "Ini juga meringankan Bank Indonesia dalam membayar bunga SBI," katanya.
Penurunan SBI, kata Burhanuddin, dipicu oleh makin menurunnya inflasi. Bank Indonesia, katanya, akan memfokuskan perhatian pada perkembangan inflasi karena, "asumsi-asumsi lainnya akan mengikuti inflasi." Ia berharap harapan pasar terhadap menurunnya SBI bisa bertahan hingga tahun depan.
Dengan perkembangan yang positif itu, Zainie yakin defisit sebesar 1,78 persen akan bisa dicapai tahun ini. Tapi ia mengkhawatirkan pemerintah tak bisa mengupayakan pembiayaan untuk menutup defisit. Pasalnya, penerimaan privatisasi yang direncanakan Rp 8 trilun hanya bisa dihasilkan sebesar Rp 4 triliun. "Sisanya ini kan harus dicari sumbernya, ini angka yang besar sekali" kata Zainie.
Untuk itu ia meminta pemerintah menghitung kembali pembiayaan untuk menutup desifit yang berkurang Rp 4 trilun itu. Ia menyarankan agar pemerintah menekan pengeluaran anggaran pembangunan, penjualan aset, dan bantuan luar negeri. Tapi yang paling mungkin bisa dilakukan adalah menekan anggaran pembangunan karena pemerintah tak bisa lagi berharap pad bantuan luar negeri mengingat tahun ini ada utang jatuh tempo.
Menurut Zainie pengeluaran rutin bisa ditekan melalui pembayaran bunga utang luar negeri dan pembayaran obligasi pemerintah. "Jadi, yang paling mungkin, ya, menekan biaya pembangunan," katanya.
(Bagja Hidayat-TNR)