TEMPO Interaktif, Jakarta:Menurut perhitungan deptan, investasinya malah lebih mahal dibandingkan di Jawa.
MenteriPertanian Bungaran Saragih mengatakan, bahwa pengembangan industri gula di luar Jawa belum diminati investor. Kenyataan itu bersadarkan survei kesesuaian untuk tebu di luar Jawa seluas 286 hektar yang sangat minim sarana dan prasarana pendukungnya. Akibatnya, pengembangan tersebut sangat mahal.
“Sebagai ilustrasi, sebuah pabrik gula dengan kapasitas 10 ribu TCD (ton cane per day) dengan dukungan areal tebu 27 ribu hektar membutuhkan dana sebesar 150 juta Dolar AS atau hampir Rp 1 triliun,” kata Bungaran dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Staf Ahli Menteri Pertanian, AS Karama, pada seminar “Membedah Problematika Industri Gula Nasional” di Jakarta (12/6).
Dengan kondisi demikian, sambungnya, pendapat yang menyatakan bahwa industri gula harus segera dipindahkan ke luar jawa harus dipertimbangkan ulang. Hal ini juga karena faktor sosial, politik dan perekonomian. Bungaran juga mengemukakan, merujuk data produksi 2002, terjadi kenaikan produksi di Jawa sebesar 14 persen dan sebaliknya, terjadi penurunan di luar Jawa hingga 13,9 persen.
Menurut Bungaran, tidak ada kemajuan yang signifikan dalam industri gula sejak diberlakukannya Inpres 9/1975. Meskipun kebijakan tersebut dapat mengenalikan harga, karena diserahkan pada Bulog, namun telah mengakibatkan proporsi tanaman plant cane dan tanaman ratoon menjadi kacau, selain sering terjadi keterlambatan pergantian varietas.
Adapun produksi rata-rata 1983-1987 hanya mencapai 1,85 juta ton. Angka ini memang sempat mengalami peningkatan menjadi 2,47 juta ton pada 1993, namun kembali turun mencapai titik terendah pada 1988. Tahun lalu, produksi gula mencapai 1,76 juta ton. Produksi tertinggi sepanjang sejarah pergulaan nasional terjadi pada dekade 1930-an yang mencapai 2,9 juta ton.
Untuk meningkatkan hasil produksi, maka pemerintah saat ini tengah menjalankan program akselerasi antara lain berupa pembongkaran ratoon dan pembangunan kebun bibit tebu, dan penyediaan prasarana pangairan. Sementara itu, efissiensi akan dilakukan di pabrik gula dengan memperbaiki manajemen produksi yang mencakup kegiatan tebang-muat-angkut. Untuk mendukung program ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan proteksi dan promosi, misalnya dalam bentuk tarif gula impor.
(Adek-TNR)