TEMPO Interaktif, Jakarta:Dolar melemah di Indonesia, karena memang melemah di mana-mana
Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat akhir- akhir ini bukan karena faktor fundamental ekonomi Indonesia. " Karena dolarnya melemah di mana-mana, jadi Indonesia ikut-ikutan," kata Meneg PPN/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie usai rapat kerja dengan Komisi IX DPR di gedung MPR/DPR Jakarta, Rabu (28/5).
Selain itu, menurut Kwik, penguatan rupiah juga disebabkan oleh kegiatan
impor yang mulai menurun. Menurunnya impor karena tidak ada lagi kegiatan
ekonomi di Indonesia. Ini menyebabkan kegiatan ekspor tidak meningkat.
Kecuali, ekspor di bidang produk pertanian. "Itu yang membuat kita surplus,"
ujarnya.
Ia mengatakan penguatan rupiah bisa karena permainan atau sebuah kebetulan
semata. Permainan artinya, semata untuk mencari keuntungan. Sehingga para
spekulan ramai-ramai membeli saham perusahaan dan mendepositokan uangnya di
Indonesia. "Mereka kemudian menunggu hingga (bunga deposito) sampai
bottom, kemudian dollar membengkak," ujar Kwik.
Indikasi lain, lanjut Kwik, jumlah volume transaksi menggunakan dollar AS
hanya US$ 200 juta/hari. Padahal tidak lama setelah krisis mencapai US$ 1,5
miliar/hari. Belumlagi, kata dia, Indonesia menerapkan sistem lalu lintas
devisa bebas total. " Ya jangan heran, kalau rupiah bisa sampai (RP) enam
ribu, tapi bisa lompat sampai (Rp) 15 ribu," tuturnya.
Ia menjelaskan sistem yang dianut Indonesia membuat spekulan dengan mudah
memainkan rupiah. Siapa mereka, kata Kwik, hanya kepala-kepala treasury bank yang mengendalikan transaksi valas yang tahu. Dengan sistem seperti ini tidak bisa memperkirakan bagaimana penguatan rupiah selanjutnya. "You never say never," kata Kwik menirukan ucapan seorang kepala treasury sebuah bank.
Kwik menambahkan dengan sistem sekarang Bank Indonesia sekalipun tidak bisa
mematok rupiah yang baik di kisaran berapa. Sehingga pertanyaan sekarang,
perlu atau tidak memikirkan sistem lalu lintas devisa yang tetap. " Dari dulu
saya mengatakan tidak bisa bebas total seperti ini," katanya, " Tapi langsung ditentang sangat-sangat keras oleh IMF dan Bank Dunia".
(Kurniawan-TNR)