TEMPO Interaktif, Jakarta:Idealnya, rupiah berada di kisaran Rp 8.200 per dolar Amerika.
Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengakui ada sektor perekonomian yang terganggu oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sektor perekonomian yang terganggu, yaitu kegiatan ekspor. “Terutama kalau sangat cepat penguatannya” kata dia sebelum mengikuti rapat kerja dengan Komisi Keuangan dan Perbankan DPR di Gedung MPR-DPR Jakarta, Senin (26/5).
Ia juga mengakui, ada sejumlah eksportir yang mengeluhkan penguatan rupiah. Tapi penguatan ini lebih kompetitif dibandingkan yang terjadi di Malaysia dan Filipina. Karenanya Ia meminta para eksportir meningkatkan efisiensi kinerja. “Sehingga penguatan rupiah tidak dipikirkan sebagai hal yang merugikan mereka (eksportir)” ujar Burhanuddin.
Menurut Burhanuddin, ada hal penting yang perlu dicatat dari penguatan rupiah saat ini. Penguatan rupiah, kata dia, mengundang masuknya arus modal jangka pendek ke Indonesia. ”Dan itu bisa terganggu jika pada suatu saat rupiah turun” tegasnya. Sehingga pemerintah dan bank sentral harus menjaga agar modal yang bersifat jangka pendek itu bisa nyaman berada di Indonesia.
Ia mengatakan, penguatan rupiah disebabkan oleh faktor fundamental dan pengaruh perekonomian dunia kata dia, kebijakan ekonomi yang dibuat oleh negara lain sangat mempengaruhi penguatan rupiah hingga berada di kisaran Rp 8.200 per dolar Tapi ia membantah penguatan rupiah karena adanya intervensi dari BI. “ Itu pasar yang menentukan” kata Burhanuddin.
Bank Indonesia, lanjut Burhanuddin, akan menjaga rupiah pada suatu titik dimana kegitan ekspor masih bisa berjalan dengan baik. Tapi Ia tidak mnyebutkan dikisaran berapa rupiah akan dijaga. Selain menjaga agar ekspor tetap berjalan, penguatan rupiah juga dibutuhkan untuk menutupi kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah. “Pada saat yang sama eksportir, terutama yang berasal dari produk sumber daya alam dan argobisnis masih bisa tumbuh” ujar pengganti Syahril Sabirin ini.
(Kurniawan-TNR)