|
Ekbis
Bulog Minta Pemerintah Hentikan Beras Impor
14 Mei 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bulog meminta agar pemerintah menghentikan sementara impor beras hingga masa panen usai. Alasannya, beras impor telah membanjiri pasar-pasar tradisional dengan harga yang jauh lebih murah. Akibatnya, harga dasar gabah tetap anjlok walaupun panen raya bulan ini sukses.
“Saya kira yang tepat adalah menyetop impor—totally—sampai September,” kata Direktur Utama Perum Bulog Widjanarko Puspoyo di Jakarta, Rabu (14/5).
Widjanarko menuturkan, pihaknya telah melayangkan surat pada Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini Soewandi agar pemerintah mengatur impor beras ke dalam negeri. Dalam suratnya itu, Bulog meminta agar impor beras dibatasi atau dihentikan sementara hingga masa panen berlalu. Surat itu ditembuskan juga ke Menko Perekonomian, Menteri Pertanian dan Menteri Keuangan.
Dirut Perum Bulog yang baru ini menjelaskan, pihaknya telah mengamati pasar karena masih terpuruknya harga dasar gabah. Padahal, panen raya cukup sukses. Bahkan Bulog telah membeli produksi gabah dalam negeri sebanyak 1,4 juta ton. “Itu luar biasa.”
Kendati begitu, tetap saja harga gabah tak tertolong. Ternyata produksi dalam negerisulit menyaingi produk impor di pasar-pasar tradisional. “Pasar tradisional sudah penuh dengan beras impor yang harganya hanya Rp 2100-Rp 2200 perkilogram.” Harga itu bahkan jauh di bawah harga pengadaan beras dalam negeri.
Bulog khawatir, bila impor masih diperbolehkan, maka kelak pengadaan dalam negeri akan terhenti. “Gudang kita akan penuh sekali. Karena itu harus ada upaya lain,” kata Widjan—panggilan akrabnya.
Namun, pihaknya sama sekali tidak mengajukan usulan mengenai mekanisme penghentian impor beras. “Terserah pemerintah, ya,” kata Widjan. Ia juga menilai, menaikkan bea masuk bagi impor beras bukanlah kebijakan yang tepat saat ini. Satu-satunya jalan keluar adalah menghentikan impor. “Saya sudah mengajukan pada Menperindag, dan saya sudah bicara pada beliau, kelihatannya ada green light dari pemerintah,” tuturnya.
Dirut mengungkapkan, Perum Bulog sama sekali belum melaksanakan impor beras pada tahun ini. “Carry over tahun lalu saja belum kita habiskan. Jumlahnya sekitar 400 ribu ton, dari Vietnam dan Thailand,” urainya.
Secara terpisah, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Sudar SA, menolak berkomentar mengenai permintaan Bulog itu. “Tanya Bu Menteri dulu, surat ini kan ke Bu Menteri, belum turun ke saya, bagaimana saya mengomentari,” elaknya berkali-kali. (Dara Meutia Uning - TNR)
|