Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

Perang Irak Tingkatkan Pengangguran
24 Maret 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ekonom Institute for Development of Economic & Finance (INDEF), Didin S Damanhuri, menilai perang Irak akan meningkatkan pengangguran. Jika perang berlangsung lama akan mengakibatkan dipulangkannya tenaga kerja Indonesia dari Timur Tengah dalam jumlah besar. Hal ini jelas akan menyebabkan ledakan jumlah pengangguran di dalam negeri yang sektor riilnya tak mampu menampung tenaga kerja dari luar negeri itu. Di sisi lain, agen-agen tenaga kerja akan memanfaatkan jumlah tenaga kerja yang dipulangkan itu untuk disalurkan secara ilegal ke negara lain.
Akibatnya, jelas Didin, penerimaan devisa dari sektor tenaga kerja di Timur Tengah akan menurun sekitar 50 persen. Didin menghitung selama 2002 penerimaan negara dari sektor tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah sebesar US $ 1,3-3,3 miliar per tahun. Menurutnya, setiap tenaga kerja membawa uang sebesar Rp 20 - 100 juta. Jumlah itu tak sampai menjadi pendapatan negara karena diperas di bandara sekitar Rp 4 - 10 miliar per hari.

Namun, jumlah itu dihitung dari jumlah penerimaan yang tercatat di perbankan. "Masalahnya, tidak semua tenaga kerja menyalurkan pendapatannya lewat bank," katanya. Untuk itu, secara riil pendapatan negara dari sektor ini diperkirakan bisa mencapai US $ 6 miliar per tahun.

Tapi, Didin menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang masih belum mengurusi secara serius tenaga kerja Indonesia ke Timur Tengah. Untuk itu ia berharap, kendati terjadi krisis di Irak, pemerintah tidak menutup penyaluran tenaga kerja ke Timur Tengah.

Dari jumlah tenaga kerja yang besar di Timur Tengah itu, 90 persen tidak punya kemampuan khusus. "Lebih banyak menjadi pembantu rumah tangga," katanya. Di seluruh dunia tenaga kerja Indonesia yang tak punya kemampuan khusus itu tercatat 85 persen. Padahal, kata Didin, di Eropa saja kini membutuhkan perawat sekitar 50 ribu orang.

INDEF menghitung jika perang Irak berlangsung hanya dalam waktu 2 minggu penerimaan devisa tenaga kerja dari Timur Tengah akan turun menjadi 0,7 persen. Namun, jika perang berlangsung sekitar enam bulan, penerimaan devisa sektor tenaga kerja menurun hingga 3,5 persen.

Bagja Hidayat --- TNR

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data