|
Ekonomi dan Bisnis
Perang Irak Memicu Potensi Kredit Macet
20 Maret 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan perbankan menilai pecahnya perang Irak akan memicu potensi kredit macet bagi sektor usaha yang ada kaitan langsung atau tidak langsung dengan wilayah Timur Tengah. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk Saifuddien Hasan mengatakan sektor usaha yang memiliki potensi kredit macet adalah produk dan industri yang menggunakan bahan bakar minyak. “Seperti tekstil yang berasal dari serat sintetik dengan bahan bakunya minyak, mau tidak mau terikat ke sana,” kata dia usai penandatangan kerja sama dengan PT Bank Internasional Indonesia Tbk di Gedung BNI 46 Jakarta, Kamis (20/3).
Meskipun demikian, Saifuddien mengungkapkan pihaknya tetap akan melakukan ekspansi kredit pada tahun ini sesuai rencana. Hanya saja, kata dia, Bank BNI akan lebih selektif memberikan kredit terhadap sektor-sektor usaha. “Yang menurut penilaian kita tidak terpengaruh banyak dengan perang Irak (sehingga tidak menimbulkan kredit macet),” ujar dia.
Saifuddien menjelaskan, tahun ini pihaknya berencana mengucurkan kredit sebesar Rp 9 triliun. Kata dia, Rp 6 triliun diantaranya disalurkan kepada usaha kecil dan menengah, sedangkan sisanya untuk kredit perusahaan. “Hampir semua sektor usaha kecil dan menengah kita beri, kecuali yang masuk kategori rate dalam traffict rate di policy kita,”ungkap dia.
Sementara, Presiden Direktur Bank BII Sigit Pramono menambahkan potensi kredit macet akan menimpa nasabah mereka, terutama yang bergerak di sektor ekspor dan impor ke atau melalui Timur Tengah. “Kalau kreditnya jadi macet, kita harus siap dengan restrukturisasi kredit dan reschedulling, karena bukan salah dia,” tutur dia. Hanya saja ia belum bisa memperkirakan berapa besar potensi kredit macet yang akan terjadi.
Sigit meminta semua arsitek ekonomi Indonesia memperkuat potensi perekonomian domestik. Karena dampak perang Irak akan besar sekali terhadap laju roda perekonomian, tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia. “Kalau kita kuat, bila ada gejolak-gejolak seperti ini bisa terkurangi dampaknya,” kata dia.
Saifuddien menilai masih terllau dini untuk melihat dampak perang secara keseluruhan terhadap kinerja perbankan. Tapi ada keuntunngan, paling tidak dari kenaikan harga minyak mentah yang mencapai USD 35 per barel. “Karena kita (Indonesia) menjadi pengekspor minyak, sehingga ada tambahandari situ,” tambah dia.
Tapi menurut Saifuddien, tingginya harga minyak mentah bisa mengakibatkan kelesuan ekonomi dunia. Kelesuan ekonomi dunia dapat berdampak pada menurunnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Ekspor kita dari permintaan pasar-pasar luar negeri mengalami penurunan,” tandas dia.
SS Kurniawan --- Tempo News Room
|