|
Ekonomi dan Bisnis
Aneka Tambang Diminta Hati-Hati Tangani Proyek FeNi III
18 Maret 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menginginkan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) menekan resiko investasi atas pembangunan proyek Fero Nickel III (FeNi III). Berbagai opsi dapat diambil oleh perusahaan, selama itu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan menurunkan resiko.
“Pemegang saham cuma ingin melihat, bagaimana perusahaan itu mendapatkan keuntungan,” kata Deputi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Bidang Telekomunikasi, Pertambangan, dan Industri Strategis Roes Ariawijaya, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (18/3). Dia menambahkan, untuk mendapatkan keuntungan, Antam harus membuat suatu strategi dan perencanaan yang akan menurunkan resiko proyeknya.
Jadi, lanjutnya, pemerintah tidak ada masalah jika Antam terus mencari berbagai alternatif strategi dan pendanaan dalam mewujudkan pembangunan FeNI III. Salah satunya, Antam tidak jadi membangun power plant III (pembangkit listrik), yang menjadi pemasok listrik bagi operasional pabrik FeNI III itu.
Dia mencontohkan, jika Antam mau melakukan suatu proyek. Proyek itu, lanjutnya, dana investasi awalnya sebesar X. “Tapi dengan skenario yang pertama, lalu dilihat lagi skenario kedua yang bisa X kurang 10. Skenario ketiga X kurang 50. Ya...lebih baik X kurang 50 ‘kan,” papar dia.
Seperti diketahui, Antam membutuhkan dana sebesar US$ 360 juta untuk mendanai proyek FeNi III. Sebagian kebutuhan dana itu rencananya akan ditutup dari kucuran pinjaman IKB Hermes, dalam mata uang euro, yang nilai maksimumnya setara dengan US$ 240 juta. Masalahnya, rencana penggunaan dana dari Hermes terancam batal sehubungan dengan menguatnya nilai mata uang euro terhadap dolar AS. Penguatan kurs ini dinilai akan memberatkan Antam.
Menurut Direktur Utama Antam D. Aditya Sumanagara, dalam kesempatan yang sama kepada wartawan, selain mencari alternatif pendanaan baru jika pinjaman dari Hermes itu dibatalkan, perusahaan juga mempertimbangkan untuk menekan total biaya pembangunan proyek itu. Caranya, Antam tidak jadi membangun power plant III.
“Saya pikir itu salah satu jalan yang terbaik,” kata dia ketika menjawab kemungkinan itu. Seperti diketahui, diperkirakan biaya pembangunan power plant itu menyedot dana investasi sekitar US$ 105 juta. Berarti, jika pembangkit listrik itu tidak jadi dibangun maka akan menekan biaya pembangunan FeNI III menjadi sekitar US$ 250 juta. “Tapi apakah itu (pembangunan pembangkit listrik) kita tangani sendiri atau tidak, saat ini sedang kita pelajari,” kata dia.
Sedangkan Roes Ariawijaya tidak mempermasalahkan jika Antam tidak jadi membangun pembangkit tenaga listrik itu. “Kalau tidak jadi dibangun, biaya investasinya kan berkurang. Jadi resikonya juga berkurang sedangkan faktor keuntungan akan bertambah,” katanya. Jika pembangkit listrik tidak jadi dibangun, lanjutnya, Antam perlu membeli listrik dari pihak ketiga yang membangunnya, bagi pasokan FeNI III. “(Harga) listriknya harus sama dengan yang dijual PLN, atau kalau bisa lebih murah sedikit,” katanya.
Meskipun begitu, Aditya menyatakan keputusan tentang berbagai opsi strategi pembangunan proyek itu dan sumber pendanaannya (penerbitan obligasi atau meningkatkan pinjaman dari Bank Mandiri), hingga kini masih terus dipertimbangkan. “Keputusannya sebelum 1 April,” kata dia sambil menyatakan bahwa Antam akan segera melakukan negosiasi kembali dengan IKB Hermes, dalam beberapa hari mendatang.
Yura Syahrul --- TNR
|