|
Ekonomi dan Bisnis
Perang Irak Akan Sangat Mengganggu Ekonomi Indonesia
18 Maret 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Anwar Nasution memastikan jika rencana Amerika Serikat menyerang Irak jadi dilakukan, perekonomian Indonesia akan sangat terganggu. Dalam jangka pendek, kata Nasution di Jakarta, Selasa (18/3), perang Amerika-Irak akan menaikan harga minyak dalam negeri.
Kendati naiknya harga minyak akan menguntungkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta neraca pembayaran, namun akan langsung berpengaruh pada konsumen. "Karena subsidi bahan bakar minyak sudah dicabut," katanya. Menurutnya, pengaruh itu disebabkan harga minyak dalam negeri sangat terpengaruh oleh harga minyak internasional yang terganggu akibat pasokan minyak dari Timur Tengah berkurang.
Selain berpengaruh pada harga minyak, kata Nasution, perang Amerika-Irak juga akan menghambat arus ekspor Indonesia ke luar negeri. "Ini jelas akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dalam negeri," katanya. Untuk itu Bank Indonesia sudah menyiapkan langkah antisipasi. Menurut Anwar pemerintah sudah menyedikan cadangan devisa yang dalam jangka pendek diperkirakan akan mencukupi kebutuhan nasional.
Nasution berharap dengan pencanangan tahun investasi pada 2003 ini, arus modal swasta asing akan meningkat ke Indonesia. "Kalau perang ini berlangsung dalam jangka pendek, kita akan bisa survive," ia memastikan.
Presiden Amerika George W Bush sudah mengultimatum Presiden Irak Saddam Hussein agar meninggalkan negaranya dan segera melucuti senjata dalam jangka 48 jam. Kini, sedikitnya 500 juta tentara Amerika dan Inggris serta tentara negara yang berbatasan dengan Irak siap menyerbu negara penghasil minyak kedua terbesar di dunia itu.
Akibat ketegangan itu harga minyak dunia melonjak menjadi US $ 30 per barel yang semula berada di kisaran US $ 20 per barel. Seluruh dunia khawatir harga minyak akan melonjak di atas US $ 40 per barel jika serangan itu jadi dilakukan.
Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menambahkan pemerintah sudah berkali-kali membahas langkah antisipasi tentang kemungkinan meletusnya perang itu. Menurut Dorodjatun, pihaknya akan melakukan langkah cepat jika gempuran Amerika itu jadi dilakukan.
Yang mengkhawatirkan pemerintah, kata Dorodjatun, bukan saja harga minyak namun kemudahan cara memperoleh minyak itu. "Anda bisa lihat harga minyak sekarang sudah jauh melampaui angka asumsi yang dipasang di APBN," katanya. Ia mengatakan Indonesia yang sangat tergantung pada perdagangan internasional sangat terganggu dengan arus barang dari dalam dan luar negeri.
Saat ini, kata Dorodjatun, dibutuhkan ribuan kapal untuk memasok logistik ke pangkalan militer tentara di perbatasan Irak. Untuk itu, katanya, arus lalu lintas laut dan udara akan terganggu dengan hilir mudiknya alat pengangkut kebutuhan itu. Hal itu akan berpengaruh pada menurunnya jumlah pasokan barang ke dalam negeri.
Ia juga berharap harga minyak dunia tidak lebih dari US $ 40 per barel. Pemerintah akan berpatokan pada janji organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) yang akan menetapkan harga minyak pada kisaran US $ 22-28 per barel. "Apalagi ada patokan harga rata-rata minyak tahunan. Jadi tidak semudah itu menentukan harga minyak," katanya.
Bagja Hidayat --- TNR
|