|
Ekbis
Aneka Tambang Kemungkinan Tambah Pinjaman dari Bank Mandiri
17 Maret 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) kemungkinan akan meminta Bank Mandiri untuk menaikan batas pinjaman, dua kali lipat dari pinjaman yang disepakati sebelumnya. Langkah ini merupakan bagian dari rencana antisipatif, jika perusahaan tidak jadi menggunakan pendanaan kredit ekspor dari IKB Hermes, Jerman.
“Kita bisa saja minta tambah dua kali lipat dari Bank Mandiri,” kata Direktur Utama Antam D. Aditya Sumanagara kepada Tempo News Room, di Jakarta, Senin (17/3). Sebelumnya, terkait dengan pendanaan untuk membiayai proyek Fero Nikel (FeNi) III senilai US$ 360 juta, perusahaan pertambangan milik negara itu berencana memperoleh pinjaman lembaga kredit ekspor (ECA) dari IKB Hermes sebesar maksimal US$ 240 juta dan Bank Mandiri sebesar US$ 75 juta.
Jika Antam tidak jadi merealisasikan pendanaan dari kredit ekspor itu, kata Aditya, bisa jadi perusahaan menaikkan pinjaman dari Bank Mandiri hingga US$ 150 juta.
Seperti diberitakan Koran Tempo (13/3), Antam akan segera memutuskan jadi atau tidaknya menggunakan pendanaan kredit ekspor itu, pada 1 April mendatang. Pinjaman ini sebagai salah satu pendanaan untuk membiayai proyek FeNi III. Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, selain dari pinjaman kredit ekspor dan pinjaman dari Bank Mandiri, dana awal pembangunan proyek strategis ini diharapkan berasal dari hasil penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).
Dalam kesempatan yang sama, kepada wartawan, Aditya menegaskan akan secepatnya memutuskan jadi tidaknya penggunaan dana dari pinjaman kredit ekspor itu. “Secara resmi kita masih berjalan dengan kredit ekspor,” imbuhnya. Dia menambahkan, dalam beberapa hari mendatang pihaknya akan ke Jerman untuk mengklarifikasikan rencana ini. “Kita harus bicaralah (dengan mereka). Tanggal 1 (April) ‘kan sudah dekat,” katanya.
Menurut dia, perusahaan harus realistis dan tidak perlu memaksakan diri, bahwa pencairan kredit itu terkendala dengan menguatnya nilai tukar Euro terhadap dolar Amerika Serikat. Aditya menjelaskan, mengingat proyek didanai dalam mata uang asing, menguatnya Euro akan membuat nilai proyek FeNi III menjadi lebih mahal dari yang direncanakan. Padahal, nilai tukar Euro saat ini sudah melewati patokan batas rasional pelaksanaan proyek yang telah ditetapkan sebelumnya.
“Kalau Euro-nya terlalu tinggi, ya kita tidak perlu lanjutkan,” ujarnya. Aditya menguraikan, total pendanaan proyek dari kredit ekspor ini maksimum adalah US$ 240 juta. Dengan kondisi Euro sekarang, lanjutnya, bisa mencapai US$ 260 hingga 270 juta.
Tapi Aditya menolak mengomentari, kemungkinan dihidupkannya kembali rencana menerbitkan obligasi dolar dalam bentuk Euro Bond (obligasi yang dicatatkan di bursa luar Amerika Serikat). “Kita belum tetapkan itu,” katanya. Menurut dia, Antam tentu saja sudah mempersiapkan langkah-langkah antisipatif yang terbaik bagi perusahaan, jika rencana kredit ekspor itu dibatalkan.
Dia menyatakan, kecenderungan beberapa perusahaan untuk menerbitkan obligasi belakangan ini sebagai sumber pendanaan, bisa dicontoh. “Obligasi memang menarik sekarang,” imbuhnya. Sebenarnya, September tahun lalu, Antam berniat menerbitkan obligasi rupiah sekitar Rp 800 miliar- Rp 1 triliun dan obligasi dolar sekitar US$ 100 juta. Tapi rencana ini batal, karena Antam keburu mendapatkan pinjaman kredit ekspor dari Hermes.
Pilihan atas penerbitan obligasi sekarang, kata Aditya, dimungkinkan tapi skemanya berbeda dengan tahun lalu. Skema yang dulu, tutur dia, obligasinya berjangka 5 tahun tanpa tenggang waktu (grace period) dan bunga 10 persen. “Jadi, begitu kita bangun tiga tahun, dua tahun kemudian harus sudah balik uang itu,” jelasnya. Jika penerbitan obligasi jadi, lanjutnya, Antam menginginkan obligasi itu berjangka waktu 7 hingga 10 tahun, dengan bunga di bawah 10 persen. “Kalau ini (obligasi) seperti itu, kita mau mempertimbangkan kembali untuk menggunakannya,” katanya mengambang.
Yura Syahrul --- TNR
|