|
Ekbis
Usaha Kecil Menengah Memiliki Prospek Cerah
12 Maret 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Yayasan Dharma Bakti ASTRA menyatakan kondisi usaha kecil menengah (UKM) akan jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. “Tahun 2003 merupakan tahun ekspansi atau tahun pengembangan,’ kata Dr.Zulkieflimansyah dari Pascasarjana Universitas Indonesia yang memimpin kajian dalam public expose di kantor Yayasan Dharma Bhakti Astra, Jakarta, Rabu (12/3). Namun Zul, sapaannya, mengatakan UKM tidak perlu dimanjakan, Tetapi perlakuan fair untuk sebuah kompetisi yang sehat.
Indikasi membaiknya kondisi UKM, papar Zul, terlihat dari semakin membaiknya kondisi internal dan eksternal usaha yang jumlahnya sebanyak 99 persen dari total usaha di Indonesia. Dari hasil analisisnya, UKM pada akhir 2002 dan awal 2003 hampir 50 persen sudah memiliki job order secara resmi. Sehingga usahanya terus berjalan. 31 persen merasa optimis akan mendapatkan order walaupun belum direalisasikan secara tertulis. Hanya sekitar 15 persen yang merasa pesimis terhadap perkembangan pasar usahanya, yaitu di sektor furni-craft dan jasa bengkel umum roda empat.
Sedangkan dari trend nilai profit, 45 persen UKM terus dapat meningkatkan nilai keuntungan bersihnya. Sedangkan dari internal, sebanyak 66 persen UKM berencana menambah srana dan kapasitas produksi serta tenaga kerja. Sedangkan untuk tenaga kerja sebanyak 44 persen akan bertambah.
Dari komposisi permodalan, walaupun sebagian besar (52 persen) masih menggunakan modal sendiri dan hanya 33 persen dari bank, namun hal tersebut akan membuka peluang baru. Zul mengungkapkan saat ini untuk tahun 2003, perbankan nasional mengalokasikan sekitar 50 persen dari total ekspansi kredit atau sebesar Rp 42,3 triliun untuk sektor UKM. Jumlah itu termasuk rencana kucuran dari bank swasta maupun lembaga keuangan lainnya. “Jadi tinggal bertanya ke UKM, mau memanfaatkan peluang ini atau tidak,” kata dia.
Sektor UKM yang akan meningkat dan siap berekspansi anatara lain bidang usaha komponen manufakturing, jasa perbengkelan, furniture dan handy-craft.
Kendati akan membaik, permasalahan klasik masih mengemuka pada bisnis ini adalah masalah modal dan keuangan. Selain masalah kepemilikan agunan, prosedur perbankan yang berbelit, tingginya suku bunga, dan sulitnya membuat proposal ke bank sering mengurungkan niat pengusaha UKM untuk mencari modal ke bank. Kendala lainnya, adalah keterbatasan akses pasar, tingginya harga bahan baku dan penunjang, mahalnya pajak, serta kualitas sumber daya manusia dan teknologi yang seringkali tertinggal.
Karena itu, peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan fasilitator dunia usaha harus memberikan arahan yang cukup jelas. Artinya, apabila struktur makro perekonomian di Indonesia terbenahi dan kondisinya semakin membaik, maka UKM pun menjadi bsinis yang menjanjikan dari sekedar hanya sebagai lahan penyambung hidup. “UKM itu masih sub sistem, walaupun memberikan kontribusi yang besar,” kata Zul yang juga meminta pemerintah dapat membuat peta UKM selain untuk menggaet investor juga sebagai pembenahan akses pasar.
Sementara itu, Ketua Dewan pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra Krisnimurti mengharapkan komitmen pemerintah untuk bersama-sama sektor swasta membina UKM. Dia juga mengharapkan sektor UKM dapat masuk dalam industri pasar modern sehingga walaupun usahanya skala kecil namun dikelola secara profesional.
Dede Ariwibowo --- TNR
|