|
Ekbis
Quadruple Track Manggarai-Bekasi Mulai Dibangun tahun 2004
11 Maret 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menargetkan pembangunan empat jalur rel kereta (quadruple track) antara stasiun Manggarai hingga stasiun Bekasi dapat dimulai tahun 2004 mendatang. Saat ini, proyek yang didanai pinjaman dari Japan Bank International Cooperation ini sudah memasuki tahap pembebasan lahan. “Tahun 2004 pembangunan konstruksi sudah bisa dimulai,” kata Direktur Perkereta-apian Departemen Perhubungan Harris Fabillah kepada Tempo News Room di kantornya, Jakarta, Selasa (11/3).
Dana yang dibutuhkan untuk pembebasan dan penertiban tanah sebesar Rp 281 miliar telah dialokasikan pemerintah dari APBN. Sementara untuk pembangunan konstruksi, dibutuhkan dana sebesar 41 miliar yen atau sekitar Rp 3,3 triliun. Dana ini bersumber dari pinjaman JBIC dengan masa pembayaran 40 tahun, masa tenggang (grace period) 10 tahun, dan bunga pinjaman 0,95 persen per tahun.
Menurut Harris, pembangunan jalur baru sepanjang 35 kilometer ini ditujukan untuk memisahkan jalur yang dipergunakan oleh kereta antar kota dengan kereta komuter. Di samping itu, dengan jalur ganda yang ada saat ini, tidak mungkin lagi untuk menambah frekuensi kereta komuter. Padahal kebutuhan penambahan frekuensi kereta komuter sudah sangat mendesak. “Jalur jalan raya saat ini kondisinya sudah sangat jenuh,” katanya.
Selama ini, meski headway (jarak kedatangan antar kereta) kereta rel listrik yang melayani aktivitas komuter baru mencapai 12-15 menit, frekuensinya sudah tidak bisa ditambah lagi. Pasalnya, terhambat oleh kereta antar kota yang memiliki karakteristik yang berbeda. “KRL kan harus berhenti paling tidak satu kilometer sekali, kalau kereta antar kota kan harus jalan terus,” jelas Harris. Padahal, pemerintah sendiri punya target, untuk melayani kebutuhan pergerakan komuter di Jabotabek, headway kereta rel listrik akan ditingkatkan hingga 6 menit.
Sementara, kapasitas jalur Manggarai-stasiun Bekasi yang dipergunakan oleh kereta antar kota dan kereta komuter sudah over load. Dengan kapasitas terpasang 216 kereta per hari, saat ini jalur ini harus melayani 238 kereta per hari. “Optimalisasi sinyal pun hanya akan menambah kapasitas maksimal 5-10 persen. Pembangunan jalur baru ini sangat mendesak,” kata Harris.
Apabila proyek ini selesai sesuai target tahun 2009, kapasitas jalur tersebut akan meningkat hingga 500 kereta per hari. Sementara, diperkirakan pada tahun itu, lalu lintas kereta yang akan mempergunakan jalur ini baru mencapai 400 kereta per hari.
Di samping pembangunan jalur baru, dalam proyek ini juga tercakup proyek elektrifikasi atau penambahan jalur kereta rel listrik hingga stasiun Cikarang sepanjang 17 kilometer dan pemindahan stasiun utama antar kota dari Gambir dan Jakarta Kota ke Manggarai. Untuk pemindahan stasiun utama ini, pemerintah telah melakukan studi kajian lalu lintas bersama dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta. “Nanti akan dibangun dua tingkat terpisah untuk jalur komuter dan jalur antar kota,” kata Harris.
Namun ada beberapa hambatan yang dihadapi pemerintah dalam tahap pembebasan tanah. Hambatan ini terkait dengan harga ganti rugi pembebasan tanah yang tidak disepakati oleh warga. Pemerintah yang menggunakan harga patokan berdasar Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP), dinilai terlalu rendah oleh warga yang berpegang pada harga pasar tanah, terutama untuk lahan yang berlokasi di Kotamadya Bekasi.
Untuk proyek ini, pemerintah harus membebaskan lahan seluas 355,4 ribu meter persegi dan melakukan penertiban lahan milik PT Kereta Api Indonesia seluas 172,1 ribu meter persegi.
Sapto Pradityo --- TNR
|