|
Ekbis
PT KAI Jajaki Kerjasama Operasi dengan Swasta
10 Maret 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Untuk membiayai pengadaan tambahan kereta rel listrik (KRL) wilayah Jabotabek, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) berencana melakukan kerja sama operasi dengan konsorsium PT INKA. “Selain karena kita tidak punya biaya, ini juga wujud partisipasi swasta,” kata Kepala Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek PT KAI Rachmadi kepada Tempo News Room di Jakarta, Senin (10/3).
Menurut Rachmadi, tahun ini paling tidak dibutuhkan tambahan 10 set rangkaian KRL atau 40 gerbong baru. Dengan harga per unitnya sekitar US$ 1,2 juta, maka paling tidak dibutuhkan biaya sebesar US$ 48 juta.
Hari ini PT KAI meluncurkan rangkaian KRL baru yang rancang bangunnya dibuat oleh konsorsium PT INKA. Dua set KRL ini sudah mulai diuji coba sejak tahun 2001 lalu. Setelah memperoleh ijin laik operasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, selama enam bulan mendatang kereta perkotaan kelas eksekutif ini akan menjalani uji coba dengan melayani jalur stasiun Sudirman --- Serpong sejauh 20 km.
Untuk saat ini, dengan armada KRL siap operasi sebanyak 233 unit (70 persen) ditambah armada kereta rel diesel (KRD) siap operasi sebanyak 27 unit, angkutan kereta api baru baru mengambil porsi angkutan perkotaan sebesar 2,5 persen. Untuk meningkatkan porsi hingga 20 persen pada 2010 seperti diamanatkan masterplan pengembangan kereta perkotaan, dibutuhkan 932 unit. Tahap pertama, Bappenas telah menyetujui pengadaan 200 unit atau 40 set rangkaian KRL senilai US$ 245 juta.
Disamping melalui pola kerja sama operasi, menurut Rachmadi, pengadaan KRL baru juga dapat menggunakan pola public service obligation (PSO). Artinya, pemerintah akan mengganti setiap biaya kerugian akibat pengoperasian kereta itu. Pola ini terutama diterapkan untuk kereta kelas ekonomi. “Caranya, operasionalisasi kereta dengan PSO dipisahkan dari yang lain, jadi jelas berapa kerugiannya,” ujarnya.
Tahun lalu, angkutan perkotaan Jabotabek meraih pemasukan hingga sekitar Rp 120 miliar. Tingkat kebocoran pendapatan akibat penumpang tidak bayar mencapai 10 persen. Dengan hanya memperhitungkan biaya operasi, kata Rachmadi, divisi Jabotabek dapat bertahan hidup. “Tapi kalau memperhitungkan depresiasi, kita masih rugi,” katanya.
Sementara, Direktur Utama PT INKA, Roos Diatmoko, menyatakan konsorsium PT INKA telah mengajukan tawaran terhadap proyek tersebut dengan harga US$ 204 juta. Selain itu, saat ini konsorsium ini telah mampu membuat rangkaian KRL dengan kandungan lokal mencapai 40 persen.
Sapto Pradityo --- TNR
|