Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekbis

Pembebasan Bea Masuk Jagung Impor Lemahkan Petani
07 Maret 2003

TEMPO Interaktif, Kendari:Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan Dr Ir Djafar Habsa menolak kebijakan Menteri Rini MS Suwandi yang berencana membebaskan impor jagung dari bea masuk. Keputusan tersebut dianggap bertentangan dengan kebijakan Departemen Pertanian. "Keputusan itu memukul petani lokal," kata Djafar kepada Tempo News Room di Kendari Jumat, (7/3).
Menurut Djafar, kebutuhan jagung nasional saat ini mencapai 1,3 juta ton. Dari jumlah tersebut, kemampuan produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu ton. Selebihnya masih harus diimpor dari sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Menyinggung soal kebutuhan pangan dalam negeri, Djafar yang berada di Kendari dalam rangka sosialisasi Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Prokmasi) 2003 sekaligus penanaman perdana padi Prokmasi mengatakan, pihaknya tahun ini menargetkan produksi pangan sebesar 56 juta ton. Untuk mendukung program tersebut, Deptan menyiapkan 10 juta ton pupuk senilai Rp 15 triliun. "Untuk pupuk, pemerintah memberikan subsidi untuk para petani sebesar Rp 1,2 triliun," katanya.

Menurut Djafar, selain menyediakan subsidi pupuk, Deptan juga mengalokasikan dana talangan untuk petani sebesar Rp 160 milyar. Dana tersebut akan diberikan kepada petani, sebelum memasuki masa panen. "Jadi, dana talangan ini, untuk membantu petani sebelum memperoleh pendapatan dari usaha taninya," ujar Djafar.

Khusus beras, tahun ini Deptan mentargetkan produksi sebesar 53 ton. Untuk mencapai target tersebut, Djafar mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan lahan seluas 12,5 juta hektar, dan benih padi sebanyak 1,2 juta ton.

Mengantisipasi agar pupuk bersubsidi tersebut bisa langsung sampai ke tangan petani, pihak Deptan memberikan kepercayaan penuh kepada para distributor yang dibagi per regional. Dengan pola ini, bila terjadi kemandekan penyaluran pupuk, yang bertanggung jawab adalah pihak distributor yang berada di regional tersebut. "Kemungkinan pupuk bersubsidi tidak sampai ke tangan petani, sangat kecil sekali," katanya.

Dedy Kurniawan

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data