|
Ekonomi Bisnis
UKM Turunkan Kapasitas Produksi
06 Pebruari 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sejumlah Usaha Kecil dan Menengah menurunkan kapasitas produksinya hingga 60 persen, akibat makin turunnya permintaan barang dari luar negeri. Karena itu, pemerintah mengalihkan orientasi pasar, dari pasar tradisional seperti AS dan Eropa ke pasar non tradisional seperti Afrika dan Timur Tengah.
Deputi Menteri Negara Koperasi dan UKM Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Sri Ernawati, di Jakarta, Kamis (6/2) mengatakan, tidak sedikit buyer (pembeli) yang membatalkan ordernya sejak tragedi Bali November tahun lalu. Akibatnya, barang-barang yang sudah dipesan batal dikirimkan.
Padahal, kata Ernawati, ekspor produk-produk UKM memiliki peran yang cukup besar dalam perolehan ekspor non migas. "Mencapai 23 persen," kata dia. Nilai ekspornya juga selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data kantor Kementerian Koperasi dan UKM, tercatat nilai ekspor produk usaha kecil tahun 2001 sebesar US$ 23,26 juta dan usaha menengah US$ 75,47 juta. Tahun 2000, ekspor usaha kecil senilai US$ 13,06 juta dan usaha menengah US$ 51,6 juta.
Ernawati mengaku, banyak menerima keluhan dari para pengusaha UKM yang kehilangan order. Karena itu, berbagai upaya dilakukan pemerintah, antara lain dengan menggelar sejumlah pameran dagang industri di beberapa negara.
Sejumlah UKM akan dilibatkan dalam pameran yang akan diadakan di Dubai, 8-15 Februari mendatang. Diperkirakan, pameran itu akan dikunjungi sekitar 2,5 juta pengunjung dari 53 negara seperti Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Afrika Utara.
Pemerintah menargetkan bisa menarik pembeli, terutama yang berasal dari pasar non tradisional. Optimalisasi penjualan akan dilakukan.
Selain itu, penjajagan terhadap potensial buyer juga akan dilakukan. Karena, Ernawati menilai, banyak potensi yang bisa dikembangkan melalui pasar tersebut. Ia optimis, pangsa pasar non tradisional akan mendongkrak angka ekspor Indonesia, terutama produk-produk UKM.(Retno Sulistyowati – Tempo News Room)
|