Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

Pemerintah dinilai Tak Sensitif
05 Januari 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta:Belum pernah dalam sejarah ekonomi modern di Indonesia sejak jaman Suharto, Habibie, Gus Dur kenaikan harga secara sekaligus. Ini menunjukkan pemerintahan Megawati tidak dapat merasakan keprihatinan masyarakat golongan menengah ke bawah kita. “Saya kaget, sama sekali tidak sensitif,” ujar Ekonom Rizal Ramli kepada wartawan, Sabtu (4/12).

Kenaikan harga secara bersamaan ini juga akan menghambat pertumbuhan ekonomi, menurutnya, akan lebih banyak yang mengangur, industri juga akan mengalami kesulitan. Rizal mengungkapkan, pemikiran pemerintah sekarang terlalu sederhana, hanya memikirkan bagaimana mengurangi subsidi tapi manfaatnya tidak ditujukan untuk kepentingan rakyat, malah untuk bayar bunga kepada kriditor. “Kalau pengurangan subsidi ditujukan untuk kepentingaan rakyat, tidak ada dari kita yang protes,” ujarnya.

Beban masyarakat dirasakan akan semakin berat, misalnya pada saat kelebaran kemarin masyarakat yang mudik relatif sedikit, kurang dari 20%, karena sudah banyak yang menganggur. Selain itu Kenaikan harga secara bersamaan setelah Lebaran, Natal dan Tahun Baru juga akan terasa berat. Budaya masyarakat Indonesia biasanya menghabiskan uang pada masa-masa lebaran, tiba-tiba dihajar dengan kenaikan harga yang tidak sensitif.

Sebenarnya menurut Rizal ada banyak cara yang dapat diambil selain menaikkan harga, pemerintah saat ini dinilai kurang kreatif dan inisyatif, mencari cara yang gampang saja. Cara lainnya seperti memobilisasi dana dalam negeri, golongan menengah keatas dapat dipaksa untuk membayar pajak. “Saya perhitungkan wajib pajak di Indonesia ada 5 juta orang,” katanya. Masyarakat juga diharapkan bereaksi, sebab Rizal menilai pemerintahan sekarang sudah tutup hati dan tutup telinga.

Priandono --- Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data