Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekbis

Dirjen POM : Industri Farmasi Jangan Menaikkan Harga
04 Januari 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta:Daya beli masyarakat Indonesia masih lemah karena itu Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan, Sampurno meminta agar harga obat tidak dinaikan. Permintaan itu paling tidak untuk tiga bulan mendatang. Hal itu diungkap Sampurno kepada wartawan, Sabtu (4/1) di Jakarta, sehubungan dengan naiknya tarif lisrik, telepon dan harga Bahan Bakar Minyak awal tahun ini.
Menurut Sampurno, jika harga obat dinaikkan maka akan berdampak negatif pada pasar farmasi karena memperkecil akan memperkecil market size. Padahal, tujuan awalnya adalah untuk memperbesar pasar, yang tahun 2002 silam tumbuh sekitar 15 persen.

Selain itu, lanjut Sampurno, industri obat-obatan jangan hanya berkonsentrasi pada pasar dalam negeri. Namun sebaliknya, justru memanfaatkan kondisi ini untuk lebih berorientasi ke eksport. Sebagai contoh, tahun lalu Indonesia telah mengkapalkan obat ke 54 negara di dunia. "Contohnya ke Nigeria, setahun kita bisa mengeksport obat dengan nilai US$ 10 Juta," katanya.

Tidak hanya itu. Kesempatan untuk bersaing di pasar obat dunia terutama di negara-negara yang sedang berkembang, juga cukup besar. Bagi indutsri farmasi, kenaikan BBM dan listrik, hanya berdampak psikologis yang tidak signifikan. "Hitungan akuntansinya tidak signifikan," kata Sampurno. Hal itu dikarenakan industri farmasi di Indonesia adalah industri membuat formulasi dan tidak membuat bahan baku sehingga tidak memerlukan energi yang besar.

Dengan alasan itulah, Dirjen POM meminta kepada produsen tidak menaikan harga obat paling tidak dalam jangka tiga bulan. Saat ini ada sekitar 198 perusahaan industri farmasi di Indonesia yang terdiri dari perusahaan milik BUMN dan PMA. Tahun lalu nilai ekspor industri farmasi mencapai US$ 70 sampai US$ 80 juta. Tahun 2003 ini diharapkan angka tersebut akan naik menjai US$ 100 juta.

Sementara itu, di tempat yang sama, Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Gunawan Pranoto mengatakan, perseroan yang dipimpinnya sedang mengkalkulasi harga obat atas dampak kenaikan BBM dan listrik. "Secara logika ini akan berpengaruh terhadap obat-obat yang marginnya kecil," katanya. Meski komponen BBM dan listrik untuk biaya produksi hanya 5 persen, tapi ada biaya lain yang terpengaruh, yaitu distribusi dan tranportasi. Kendati demikian, "Tapi untuk saat ini belum ada rencana untuk menaikkan harga obat," ujarnya. Yura Syahrul – Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita ekbis Lainnya

Pinjaman Tertunda Diperkirakan US$ 100 Juta
(Rabu, 28/04/2004 | 19:19 WIB)
Dirut BRI: Perbankan Komit Bantu Usaha Kecil
(Rabu, 28/04/2004 | 15:43 WIB)
Deptan: Perlu Dibentuk Dewan Ayam
(Rabu, 28/04/2004 | 15:28 WIB)
Ratusan Peternak Demo Kenaikan Harga Pakan
(Rabu, 28/04/2004 | 14:45 WIB)
Dana Bagi Pengusaha Mikro Sudah Cair
(Rabu, 28/04/2004 | 14:09 WIB)
Menko Ekuin : Dana Kemiskinan Mencapai Rp 18 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 13:46 WIB)
PNM Salurkan Dana Pembiayaan UKM Rp 4 Triliun
(Rabu, 28/04/2004 | 10:39 WIB)
Pendapatan PT. Tempo Inti Media Naik
(Selasa, 27/04/2004 | 19:33 WIB)
Prudential Khawatirkan Nasib Nasabah
(Selasa, 27/04/2004 | 19:06 WIB)
Harga Minyak Mentah Diusulkan US$ 22-25
(Selasa, 27/04/2004 | 13:19 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data