|
Ekonomi dan Bisnis
Inflasi 2002 Tembus Dua digit
02 Januari 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tingkat inflasi tahun 2002 kembali menembus level dua digit, yaitu sebesar 10,03 persen. Meskipun demikian, tingkat inflasi tahun ini masih lebih rendah dibandingkan tahun 2001 yang mencapai 12,55 persen. “Yang memberikan andil terbesar adalah kelompok pengeluaran perumahan sebesar 2,79 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Soedarti Surbakti, di Jakarta, Kamis (2/1).
Selain perumahan, kata Soedarti, kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi lainnya antara lain, bahan makanan sebesar 2,36 persen, transpor dan komunikasi 1,77 persen, serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 1,72 persen.
Sementara, jenis barang dan jasa yang memberikan andil kenaikan inflasi paling tinggi adalah kenaikan tarif listrik sebesar 0,70 persen. Disusul kontrak rumah sebesar 0,61 persen, kenaikan harga beras 0,59 persen, naiknya tarif telepon 0,54 persen, dan cabe merah 0,42 persen. “Tapi kenaikan harga bensin hanya memiliki andil 0,38 persen, dan minyak tanah 0,34 persen,” kata Soedarti.
Tingginya tingkat inflasi ini, menurut Kepala BPS, didorong oleh inflasi pada seluruh kelompok pengeluaran yang tercakup dalam Indeks Harga Konsumen. Di antaranya, kelompok bahan makanan mengalami kenaikan harga rata-rata 9,13 persen, kelompok pengeluaran 12,71 persen, pendidikan, rekreasi dan keluarga naik sebesar 10,85 persen, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 9,18 persen. Demikian halnya kelompok transportasi dan komunikasi naik sebesar 15,52 persen.
Menurut Soedarti, dalam kurun waktu 12 bulan, tingkat inflasi tertinggi terjadi pada bulan Januari 1,99 persen, sedangkan yang terrendah terjadi pada bulan Agustus sebesar 0,29 persen. Sementara, pada bulan Maret dan April justru terjadi deflasi. Masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,24 persen.
Pada bulan Desember sendiri, jelasnya, tingkat inflasi mencapai 1,20 persen. Dengan kelompok pengeluaran bahan makanan memberikan andil terbesar sebesar 0,63 persen. Disusul kelompok perumahan 0,24 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,19 persen.
Inflasi ini terjadi, kata Soedarti, karena kenaikan harga yang terjadi pada semua kelompok barang dan jasa. Misalnya, pada kelompok bahan makanan terjadi eknaikan harga 2,42 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 1,01 persen, dan kelompok perumahan naik rata-rata 1,05 persen. “Lainnya kurang dari 1 persen,” katanya.
Beberapa barang yang mengalami kenaikan harga selama bulan terakhir 2002 ini antara lain, gas elpiji, cabe merah, tarif listrik, angkutan antar kota, daging sapi dan minyak goreng. Sementara, beberapa barang yang justru mengalami penurunan harga, misalnya daging ayam ras, ketimun, pisang dan kacang panjang.
Dari 43 kota yang dipantau, tercatat 41 kota mengalami inflasi, sedangkan dua kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Manado sebesar 3,84 persen, sementara yang terendah terjadi di kota Palangkaraya 0,22 persen. Sebaliknya, kota Padang justru mengalami deflasi sebesar minus 0,90 persen dan Bandar Lampung minus 0,52 persen.
Untuk bulan Januari 2003, Soedarti memperkirakan tingkat inflasi akan bergerak pada kisaran 1,6 hingga 2,4 persen. Hal ini berkaitan dengan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif telepon, dan tarif dasar listrik. “Tidak akan bergerak jauh dari kisaran dua persen,” katanya.
Sapto Pradityo --- Tempo News Room
|