TEMPO Interaktif, Jakarta:Para menteri bidang perminyakan dari negera-negara anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) sepakat memangkas jumlah produksi minyak hingga enam persen mulai 1 Januari 2002. Pemotongan akan dilakukan setidaknya selama enam bulan produkksi. Hal tersebut diumumkan dalam sebuah konferensi pers dari pertemuan mendadak negara-negara OPEC yang berlangsung di Kairo, Mesir, Sabtu (28/12).
Keputusan OPEC tersebut diambil meskipun para negara penghasil minyak non OPEC seperti Rusia dan Norwegia memangkas jumlah produksinya lebih kecil daripada yang diharapkan. OPEC yang telah mengurangi produksi hingga 3,5 juta barel per hari pada tahun 2001 ini, melalui para menteri yang mengadakan pertemuan, menyatakan merasa sulit melakukan hal tersebut. Pasalnya, negara-negara non OPEC melakukan meningkatkan jumlah produksi.
Isu pemotongan produksi tersebut sebenarnya telah mencuat sejak awal musim gugur seiring dengan lemahnya aktivitas ekonomi dunia karena ketidakpastian yang timbul akibat penyerangan 11 September ke WTC. Hal tersebut berimbas pada harga minyak yang turun hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebelum pengumuman resmi OPEC, pasar minyak telah memberi tanggapan beragam ketika bulan lalu OPEC menyatakan secara tidak resmi persetujuannya untuk memotong jumlah produksi di tahun depan sebagai upaya mendongkrak kembali harga minyak. Sehari sebelum pengumuman ini disampaikan, harga rata-rata minyak mentah OPEC mencapai titik terendahnya yakni US$ 18.68 per barel.
Penasehat bidang perminyakan Presiden Nigeria, Rilwanu Lukman menyatakan pemotongan produksi sudah cukup untuk mengangkat kembali harga minyak hingga level US$ 22 per barelnya, target minimum harga minyak OPEC. Namun demikian, beberapa negara anggota OPEC mempertanyakan apakah pemberlakuan pemotongan produksi pada negara-negara OPEC dan non OPEC akan efisien untuk menaikkan harga minyak antara US$ 22 hingga US$ 28.
"Kami berharap harga akan kembali stabil pada batas-baas yang reasonable, sekitar US$ 20 dan US$ 25 per barel. Ini yang kita harapkan," ujar Menteri Perminyakan Saudi Arabia Al Naimi setelah pertemuan berakhir.
Akan tetapi, Al Naimi menambahkan, tidak ada kepastian akan adanya stabilitas harga karena hal tersebut tergantung pada mekanisme pasar. Saudi Arabia saat ini masih tetap menjadi anggota OPEC yang memberikan kontribusi minyak terbesar dan paling berpengaruh pada organisasi tersebut.
Sementara itu, produsen minyak non OPEC berjanji untuk mengurangi 462.500 barel perhari, 37.500 barel lebih tinggi dari permintaan OPEC. Diantara negara non OPEV, Norwegia dan Rusia berjanji untuk memangkas produksinya masing-masing sebesar 150.000 barel, Mexico 100.000 barel, Oman 40.000 barel dan Angola 22.500 barel per hari. OPEC sendiri menargetkan produksinya untuk tahun 2002 sebesar 23,2 juta barel.
(ABCNews/Sri Wahyuni)