TEMPO Interaktif, Jakarta:Turunnya harga minyak hingga di bawah US$18 perbarel akibat perang harga antara negara nonanggota dengan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), kata pengamat perminyakan, Kurtubi, ketika dihubungi melalui telepon di kantornya, Jumat (16/11) sore.
Ia mengatakan, “OPEC sudah sebel karena Rusia yang amat menggenjot ekspornya, padahal demand sudah lemah sejak peristiwa 11 September.”
Lemahnya harga, menurutnya, juga diakibatkan karena keputusan OPEC menurunkan produksi minyak, sebanyak satu hingga satu setengah juta barel perhari, baru akan berlaku pada Januari 2002.
Hal itu, tambahnya, dengan syarat negara-negara anggota OPEC yang produksinya besar, seperti Rusia, Norwegia, dan Meksiko bersedia mengurangi produksi minyak mereka. OPEC meminta ketiga negara tersebut menurunkan produksinya sebanyak 500 ribu barel per hari.
“Jika mereka tidak mau, OPEC juga tidak mau mengurangi produksinya. Ini bisa membanjiri produksi minyak dunia,” ujarnya. Negara lain yang perlu diwaspadai adalah Angola dan Kazakhstan.
Karena itu, kata Kurtubi, dalam waktu mendatang Rusia akan memegang peranan yang sangat signifikan, karena produksi minyaknya terus meningkat. Oleh karena itu AS berusaha mendekati negara itu.
Kurtubi mengatakan harga dunia yang ideal adalah US$24 dolar per barel. Sementara untuk prospek ke depan, harga minyak dunia akan ditentukan oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara industri lainnya.
“Semua pengurangan kegiatan ekonomi akan mengurangi permintaan minyak. Kalau lihat trend-nya kayak begini, harga minyak dalam waktu lima tahun ke depan akan mencapai harga US$24-US$25 dolar perbarel,” ungkapnya.(faisal-tempo news room)