|
Rizal Ramli:
“Kenaikkan Harga BBM Sebelum Oktober”
09 Mei 2001
TEMPO Interaktif, Jakarta:Revisi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dilakukan tidak sekedar melalui pendekatan akuntansi saja, tapi juga dengan mengurangi ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia. Salah satunya adalah dengan mengurangi subsidi BBM. Ini dikatakan Menteri Koordinator Bidang Prekonomian, Rizal Ramli, usai rapat terbatas bidang ekonomi di Istana Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (9/5).
Salah satu solusi yang kemungkinan akan diambil pemerintah, menurut Rizal, adalah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), yang dalam wacana pemerintah sebesar 30 persen, sebelum Oktober tahun ini. “Defisit anggaran bukan hanya karena pengeluaran kita yang jor-joran, tapi juga karena kenaikan nilai subsidi BBM dari Rp 41,6 triliun menjadi Rp 66,8 triliun akibat nilai tukar rupiah yang turun,” jelas Rizal.
Yang menjadi persoalan bagi pemerintah, jelas Menko, selama ini yang menikmati subsidi itu adalah kelompok masyarakat yang mampu. Rizal lalu mencontohkan, apabila seseorang menggunakan sebuah mobil Toyota Land Cruisser dengan tingkat konsumsi 50 liter solar per minggunya, maka pemerintah harus mensubsidi pemiliknya sebesar Rp 361 juta rupiah per tahun per mobilnya. Hampir separuh harga mobil itu sendiri. Sementara, sebagai perbandingan, untuk penggunaan minyak tanah 30 liter per bulan oleh rakyat kebanyakan, pemerintah hanya mengeluarkan subsidi sebesar Rp 684 ribu per tahunnya.
Karena itu, lanjut Rizal, jika memang menaikkan harga BBM dijadikan solusi untuk mengurangi defisit anggaran, harus ada program kompensasi sosial untuk rakyat golongan menengah ke bawah. Program tersebut akan terdiri dari beasiswa untuk anak-anak dari masyarakat ekonomi lemah, perbaikan sekolah, imunisasi gratis, serta pengadaan air bersih dan sanitasi. “Kami sedang menghitung-hitung biaya program ini dan akan disesuaikan dengan jumlah pengurangan subsidi BBM yang akan diterapkan, “ kata Rizal. (Sri Wahyuni)
|