Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Tabuhan Ndjagong
Jum'at, 09 Mei 2008 | 15:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tubuh penonton bergerak berirama tersirap tabuhan jimbe, gondang Batak, gong, simbal, dan drum yang dimainkan lima lelaki berpeluh di atas pentas. Para penonton yang memadati Warung Apresiasi Bulungan, Senin malam lalu, seolah mentransfer energi positif ke lima pemain perkusi kelompok Ndjagong itu.

Ndjagong berasal dari kosakata bahasa Jawa yang berarti berkumpul-berdialog. Kelompok ini beranggotakan Hendrikus Wisnugroho, yang juga personel kelompok musik Rastafara; Darman, pendiri kelompok musik Djembe Merdeka; Kaunang; Andrie Setiawan; dan Nur Rahmat alias Kate. Lima nama terakhir berasal dari Sanggar Akar.

Dalam pertunjukan lebih satu jam dalam rangka ulang tahunnya itu, kelompok ini menyajikan empat scene penampilan, masing-masing mengisahkan perjalanan kelompok musik yang terbentuk pada 5 Mei 2007 itu. Scene pertama menampilkan tiga repertoar simbolisasi terbentuknya kelompok Ndjagong.

Setelah pertunjukan Kendang tunggal Hendrikus, muncul Kaunang, Andrie, dan Kate. Tiga pemain perkusi berumur 20-an tahun itu muncul dari tiga sudut berlainan. Mereka bergantian memukul jimbe dengan gaya teatrikal. Scene pertama diakhiri dengan permainan jimbe tunggal oleh Darman.

Ansamble berupa drumcussion dan empat buah jimbe menjadi sajian sesi kedua. Dua komposisi berlabel Mendoan dan Hutan Kota dibawakan Ndjagong secara medley.

Bagian ketiga dinamai Metrobus--terinspirasi oleh komedi bus kota yang karut-marut. Ini komposisi paling menawan yang mampu membawa penonton menggoyangkan kepala, tangan, dan kaki.

Tak jarang penonton tertawa menyaksikan lima pemain yang seakan berebut memukul tiga gondang yang dijajarkan di bagian depan panggung. Secara bergantian para pemain mengambil kesempatan memukul bagian kulit dan tubuh gondang. Sambil bergeser teratur, kelimanya bergerak dan menghasilkan ritme yang makin lama makin cepat.

Satu ketika, formasi pecah. Darman dan Hendrikus berpencar. Keduanya mundur lalu bersamaan memainkan drum dan simbal. Sedangkan Kaunang, Andrie, dan Kate secara bersamaan memukul gondang. Paduan tabuhan gondang, drum, simbal, jimbe, dan gong itu dihujani cahaya warna-warni yang bergantian berkejap dari setiap penjuru panggung.

Kepulan asap dry ice membuat imajinasi penonton semakin dekat dengan keriuhan suasana terminal dan jalan raya yang disesaki bus kota. Kentongan bambu yang digantung di bagian belakang panggung pun tak lepas dimainkan. Alat musik tradisional Sumatera Barat, talempung, juga sempat dimainkan.

Pertunjukan yang diselingi tanya-jawab bersama penonton selama sekitar 20 menit itu dipungkasi dengan komposisi Sunset Dialogue to Remember. Ndjagong mengaku komposisi itu terinspirasi oleh pedagang keliling yang menjadikan bunyi-bunyian sebagai alat untuk menarik perhatian pembeli.

Ritme dan suasana komposisi terakhir ini tidak segarang sebelumnya. Penonton lebih diajak untuk bersantai menikmati bunyi-bunyian dan berkontemplasi dengan paduan bunyi yang melankolis. l KURNIASIH BUDI


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Riuh Karnaval
Musik Segar Holy City
Pentas Toto Batal, Penggemar Marah
Melodi Shamisen
Konser di Pulau Napi
Rambut John Lennon Terjual Rp 441 juta
Musik Koes Ploes Akan Digelar di Bekasi
Improvisasi Wolfgang Muthspiel
Komunitas Online Sobat Padi
Konser Jazz Willem Breuker
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122786 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data