Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
[an error occurred while processing this directive]
   

Dari yang Elegan hingga Gala Timur Tengah
Selasa, 16 September 2008 | 08:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Di bawah lampu kristal raksasa, terbentang panggung panjang berlatar bangunan kota tua Persia sebagai arena para model berlenggak-lenggok. Mereka mengenakan puluhan busana muslim. Inilah ajang Islamic Fashion Festival (IFF) kelima yang berlangsung di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Peragaan ini menggelar karya 20 perancang Malaysia-Indonesia. Malam itu, Alya Rohali didaulat sebagai pembawa acara dan mengenakan busana muslimah cantik rancangan Sebastian Gunawan.

Sementara itu, pilihan gaya busana pada ajang ini bervariasi, dari yang tingkat ketertutupannya paling minim, menengah, sampai yang maksimal. "Semua tergantung pilihan individu, yang penting sesuai dengan substansinya," kata Datuk Raja Rezza Shah, pendiri sekaligus Ketua IFF. Ia menjelaskan, pendekatan kesopanan ini menjadi pakem atau acuan para perancang.

Secara umum, semua perancang memakai manik, payet, kristal, bebatuan, aksesori korsase, serta pilihan kain tradisional seperti songket, tapis, dan batik yang dipadu padan dengan bahan sutra, organza, dan sifon. Pilihan warnanya dari yang terang, seperti emas dan putih, hingga yang gelap, seperti cokelat dan hitam.

Perancang Tanah Air yang ikut ambil bagian adalah Muasa Widyatmodjo, Biyan, Itang Yunasz, Sebastian Gunawan, Merdi Sihombing&Esmod, Barli Asmara, Meeta Fauzan, Andi Saleh, Farah&Claudia, Syahreza Muslim, Defrico Audy, Ade Sagi, serta Samuel Wattimena. Adapun perancang Malaysia yang ikut adalah Datuk Tom Abang Saufi, Albert King, Datin Sharifah Kirana, Calvin Thoo, Iszal Citra, dan Aktif Bestari.

Datuk Raja Rezza Shah menambahkan, ajang rutin ini berlangsung dua kali setahun. "Kami ingin menegaskan, bila patron mode dunia ada di London, Paris, Milan, dan New York, maka saatnya busana muslim berpusat di Indonesia, Kuala Lumpur, dan Dubai," kata pria berwajah tampan itu.

Dato yakin ketiga kota ini memiliki potensi ajang penciptaan busana Islami, peluang pasar yang mengarah ke dunia internasional serta membidik 1,5 miliar warga muslim di seluruh dunia, khususnya di kalangan menengah ke atas.

Tengoklah perancang Musa Widyatmojo, yang menyajikan jalur tengah dengan pemahaman yang dianut masyarakat Indonesia. Dia menyajikan gaya menutup seluruh rambut dan gaya menutup rambut tidak rapat. Semuanya kembali pada selera masyarakat.

"Ada tuntutan mengenakan busana muslim (karena) tetap ingin tampil cantik, menawan, dan elegan. Ada pemahaman antara budaya dan agama punya aturan sendiri, makanya harus pintar memilah yang saya sajikan tidak dengan satu pakem," ujar perancang senior yang menjual karyanya mulai Rp 5 juta.

Beda lagi dengan Biyan, yang terinspirasi oleh kemegahan Timur Tengah. Perancang senior itu bermain dengan warna hitam, cokelat, biru tua, serta abu-abu yang penuh bordir dan manik-manik warna emas.

Adapun Sebastian Gunawan menawarkan baju bermotif coretan abstrak dengan warna dasar hitam dan abu-abu. "Rancangan ini mencerminkan kesan ringan dan dinamis. Dengan potongan asimetris dipadu celana panjang yang pas menempel pada kaki, busana ini bisa dipakai buat Ramadan atau Lebaran karena bisa untuk acara tidak terlalu formal," ucapnya.

Yang tak kalah mengesankan adalah karya Defrico Audi, yang memilih tema "Le Afrika" dengan aksen etnis dan gaya unik. Dia memadukan gaun berwarna hijau tua dengan kain tradisional Afrika berwarna cokelat cerah. Dengan penutup kepala dilengkapi salur kain panjang, rancangan ini tampak utuh, dari ujung kepala hingga kaki.

Dari negeri jiran Malaysia, Datuk Tom Abang Saufi menyodorkan warna cerah, seperti oranye, cokelat muda terang, dan merah. Temanya "Amber", yang terinspirasi oleh kecantikan batu amber. Rancangannya bergaya muda dalam warna-warna cerah berupa padu padan tunik panjang, celana pipa, gamis, serta gaun panjang, yang terlihat semakin cantik dengan detail lace dan motif lukisan tangan.

Rekan Datuk Tom, Albert King, mempersembahkan rangkaian evening dress glamor dalam tema "Al Mutheerah". Ragam gaun malam dari material mewah layaknya organza, sifon, tafeta, dan tule hadir silih berganti dalam berbagai warna. Terkadang dinamis, manis, hingga ekstravaganza. Sementara itu, Calvin Thoo menghadirkan busana dengan warna kontras, merah-hitam, hitam-putih, atau kuning dengan aksesori merah dan hitam.

Hadriani P


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Sejuta Gaya Batik
Mozaik Kisah Perjalanan Gaghana
Gaya Ramah Lingkungan  
Gaya Ramah Lingkungan
Tampil Anggun di Bulan Suci
Gaya Busana Lebih Segar Saat Ramadan
Jogja Fashion Week Hadirkan Fashion Etnik
Ragam Keindahan dalam Jakarta Fashion Week 2008
Pesona Batik Keraton nan Elegan
Gemerlap Jakarta Fashion Week 2008
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk135641 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< September,2008>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data