|
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Bedah Saluran Cerna
Senin, 21 Juli 2008 | 11:12 WIB
TEMPO Interaktif, BANDUNG:Indonesia masih kekurangan dokter spesialis bedah, khususnya bedah digestif atau saluran cerna. Hingga tahun 2008, jumlahnya mendekati dua ribu orang untuk melayani 240 juta penduduk Indonesia. “Padahal penyakit pencernaan kini termasuk yang paling serang menyerang penduduk Indonesia,” kata Basrul Hanafi Buyung, Guru Besar Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung saat membacakan orasi ilmiahnya di Bandung, akhir pekan lalu.
Orasi berjudul Perkembangan Ilmu Bedah Digestif di Indonesia : Tantangan dan Harapan dalam Upaya Meningkatkan Pelayanan Bedah Bagi Masyarakat itu “itu dibacakan Basrul saat pengukuhan guru besarnya di Universitas Padjadjaran. Selain Basrul, ada juga Duddy S Nataprawira khusus ilmu Obstetri dan Ginekologi.
Menurut Basrul, meski masih terhitung kurang, jumlah ahli spesialis bedah cerna ini masih lebih banyak ketimbang satu dekade lalu. Saat itu, hanya ada sekitar 1.200 spesialis bedah untuk melayani 200 juta penduduk Indonesia. “Kalau sekarang kan satu banding 120 ribu jiwa,” ujarnya.
Basrul merujuk pada perbandingan serupa di Thailand. Di negeri itu, ada sekitar 10 ribu spesialis yang melayani 50 juta penduduk atau satu banding lima ribu jiwa.
Di Indonesia, selain jumlahnya yang kurang, distribusi ahli cerna ini pun tak merata karena sebagian besar berada di kota besar. Di Jabotabek saja misalnya, ada sekitar 400 spesialis dalam berbagai bidang. Masalah lainnya, juga ada kesenjangan dalam jumlah spesialis di bidang tertentu. Misalnya sesuai tahun lalu, jumlah spesialis anaestesi hanya ada 600 orang. “Padahal dokter spesialis yang membutuhkan bantuan spesialis anaestesi jumlahnya lebih dari lima kali lipatnya,” katanya.
Saat ini, tambah Basrul, dokter spesialis bedah digestif hanya ada di pusat-pusat pendidikan kedokteran serta di beberapa ibukota provinsi seperti Jambi, Pekanbaru, dan Balikpapan. Dia berharap dokter digestif ini tersedia paling tidak di setiap rumah sakit rujukan tingkat provinsi. “Jika hanya mengandalkan empat pusat pendidikan di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar dengan daya tampung maksimal 4-8 calon per semester, kekurangan itu tidak akan terpenuhi,” katanya.
Karena itu, kata Basrul, Kolegium Bedah Digestif Indonesia telah memutuskan akan membuka tiga pusat pendidikan baru di Semarang, Yogyakarta, dan Padang. Penambahan ini, bisa jadi peluang untuk dimanfaatkan oleh spesialis bedah umum dalam meningkatkan karier mereka. “Diharapkan dalam lima tahun kedepan akan dihasilkan paling tidak seratus orang dokter spesialis bedah digestif baru,” katanya.
Kekurangan dokter juga terjadi pada dokter spesialis bedah laparoskopi. Laparoskopi merupakan tindakan endoskopi (tindakan bedah invasif minimal dengan memasukkan alat untuk melihat ke dalam rongga tubuh) yang dilakukan ke dalam rongga perut. “Salah satu hambatan dalam perkembangan bedah ini adalah terbatasnya tenaga kompeten,” ujar Duddy.
Karena itu Duddy menyarankan didirikannya pusat keunggulan yang menjadi tempat pendidikan spesialis ini. “Ini diharapkan dapat mempermudah peserta didik yang berminat memperdalam bedah laparoskopi,” ujar Duddy.
Rana Akbari Fitriawan
INDEKS BERITA LAINNYA :
|