[an error occurred while processing this directive]

Nama :
Senior Superintendent Drs. TB Chanafi S, SH
Lahir :
Purwakarta, 25 Desember 1953
Suku :
- Sunda
Jabatan Terakhir :
- Komandan Resimen II Brimob
Kepangkatan :
Letda Pol :01-12-1976
- Lettu Pol : 01-04-1979
- Kapten Pol : 01-04-1982
- Mayor Pol : 01-10-1986
- Letkol Pol : 01-04-1993
- Kolonel Pol: 01-04-1998
Riwayat Jabatan :
- 1977-1979: Dan Sek Bedui Res Sanggau
- 1979-1980: Dan KI III Yon H Brimob Kalbar
- 1980-1982: Pa Ops Yon H Brimob Kalbar
- 1982-1983: Dan Ki I/Yon H Brimob Kalbar
- 1983-1984: Wadan Yon H Brimob Kalbar
- 1984-1986: Wadan Sat Pol Air Polda Kalbar
- 1986-1987: Instruktur Seba Cisarua Polda Jabar
- 1987-1988: Kasat Sabhara Polda Jabar
- 1988-1989: Waka Polresta Bandung Timur Polwil Tabes Bandung
- 1989-1992: Kapolresta Bandung Timur Polwil Tabes Bandung
- 1992-1993: Kabag Mindik Ditdikjar Sespim Polri
- 1993-1994: Kabag Minu Sespim Pol
- 1994-1995: Pamen Staf Sespim Pol
- 1995-1999: Dan Sat Brimob Jatim
- 1999-sekarang: Dan Men II Brimob
Tanda Jasa :
- SL Kesetiaan VIII
- SL Kesatrian Tamtama
- SL Karya Bakti
- SL Dwidya Sistha
- SL Kesetiaan XVI
Alamat kantor :
Markas Brimob
Jalan Akses UI, Kelapa Dua, Depok
Telepon 021-8710676

Senior Superintendent Drs. TB Chanafi S, SH
"Sekarang Teriak, Besok Baru Kumpul"

Bom mengguncang, Gegana Datang. Itulah mungkin kata yang tepat untuk melukiskan kesigapan pasukan "khusus" Polri pimpinan Senior Superintendent TB. MH. Chanafi. Terakhir benda yang sangat ditakutkan -- karena bisa mematikan -- itu meledak di Medan, Sumatera Utara, persisnya di depan Gedung Pardede Hall, Jalan Syailendra Medan, Minggu (12/11) sekitar pukul 14.00 Wib. Akibatnya, satu wanita tewas dan empat orang mengalami luka-luka.

Memang, kesibukan mereka dalam bulan-bulan terakhir, meningkat tajam. Ia menjadi semacam "dewa" penyelamat ketika ada isu dan teror bom bergentayangan di sejumlah sudut kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, juga Medan yang hampir menjadi "langganan" ledakan bom. Masyarakat akan lega setelah pasukan Brimob yang berseragam hitam-hitam tiba dan selesai bekerja. Meski begitu, Komandan Gegana, Senior Superintendent TB. MH. Chanafi menyebut Gegana sebagai polisi biasa saja. "Hanya dia punya tiga tugas khusus yakni menjinakkan bahan peledak, mengatasi teror dan SAR," katanya.

Chanafi benar. Memang itulah tugas pasukannya. Dan itu pulalah yang membuat Gegana selalu ditunggu begitu isu atau teror bom menyeruak. Tak heran, kalau kemudian ada pula orang yang suka jahil mempermainkan Gegana. "Pernah ada yang ketemu bungkusan. Kami ditelepon katanya ada bom, ramai semua. Setelah kita ambil, ternyata bukan. Itu hanya celana dalam dan BH," tutur Chanafi, sambil mengetuk-ngetuk sandaran kursi, menahan geli.

Tetapi Chanafi sadar benar, suka atau tidak suka, pihaknya memang harus serius menangani kasus yang menyangkut bom itu. Apalagi, sekarang, ketika bom benar-benar meledak dan mendatangkan korban, tidak lagi hanya sebatas teror atau isu. Kasus peledakan di Kejaksaan Agung, rumah Duta Besar Filipina di Jakarta dan terakhir Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) adalah contoh betapa masalah ini tidak ringan dan main-main.

Untuk itu, pihak Gegana menyediakan diri setiap saat untuk dihubungi berkenaan dengan ancaman bom itu. "Telpon saja ke (021) 871 2666. Kami selalu ada unit yang disiagakan untuk melayani," jelas Chanafi. Sementara, untuk wilayah yang jauh dengan markas mereka, bisa menghubungi polisi di wilayah setempat. Semakin cepat melapor, semakin baik. Selain itu, ia juga memberi resep: bagi yang menemukan sesuatu yang diduga bahan peledak, yang pertama yang harus dilakukan adalah menghindarkan ‘barang itu’ dari keramaian. Setelah itu, segera menghubungi aparat.

Sayangnya, di tengah keseriusan dan ‘ketegangan’ menghadapi tugasnya, ada pula kabar tidak enak menerpa Gegana. "Kami dengar ada kasak kusuk di luar, kalau Gegana dibayar dalam melakukan tugasnya. Itu tidak benar," kata Chanafi. Padahal, lanjutnya, melayani masyarakat, melakukan sterilisasi dan penyisiran bom, sudah mejadi tugas Gegana. Meski begitu, Chanafi tampak tidak apriori dengan kabar tidak enak itu. Bila masyarakat tahu dan bisa membuktikan anak buahnya memungut biaya, "Tolong lapor saya. Akan saya ambil tindakan tegas."

Lengket Pakai Baret

Chanafi lahir di Purwakarta 25 Desember 1953. Sejak masih di bangku sekolah, dia sudah memendam keinginan untuk menjadi anggota ABRI. Kesatuan yang menjadi idamannya, sebenarnya, adalah Angkatan Darat. "Karena orang tua saya dulu pernah jadi jadi tentara, pernah jadi polisi, pernah jadi jaksa. Sehingga saya cenderung punya cita-cita jadi tentara," ujarnya. Namun, ketika mengikuti tes untuk menjadi tentara, dia gugur. Dan dia tidak menolak ketika ditempatkan di polisi. Kebetulan polisi adalah pilihan dia berikutnya.

Tahun 1976 Chanafi menyelesaikan pendidikan Akpol di Sukabumi. Setelah itu, berturut-turut dia bertugas di Kaltim, Kalbar, lalu ke Jawa Barat. Kemudian, ia ditugaskan menjadi Komandan SatBrimob Jatim, sebelum akhirnya ditarik ke Jakarta menjadi Komandan Gegana. Salah satu kasus yang pernah ditangani saat bertugas di Jatim adalah kasus dukun santet di Bayuwangi. "Ketika itu, saya ditugaskan oleh Kapolda membantu Kapolwil menangkap para pelaku yang membunuh dukun-dukun santet," ujarnya.

Bagi Chanafi, setiap profesi selalu ada suka maupun dukanya. Dia sendiri mengaku, hanya bisa menceritakan suka duka sebagai Brimob. Karena, bagi orang Sunda ini, sejak awal baret terus melengket di kepalanya. "Tanda tangan saya ini baru berlaku hanya untuk nahan anggota," ujar suami Nita Siti Hamalia (38) dan ayah dari Irin Arinta (18), Irna Arinta (15), dan Irfa Arfitra (4), setengah bercanda. "Tapi segala sesuatu itu harus disyukuri, dinikmati, dicari seninya agar tidak jenuh. Itu saja ilmunya," ujarnya lagi.

Meski baru setahun bertugas di Gegana, Chanafi mengaku sudah sampai ke mana-mana. "Satu tahun di Gegana ini, baru tiga bulan saya bertemu dengan keluarga di Kelapa Dua ini," ujarnya. Sebab, begitu selesai serah terima, dia langsung diperintahkan oleh Asop Kapolri, waktu itu Jendral Bimantoro –Kapolri sekarang--, untuk berangkat ke Aceh.

Baru tiga pekan di Aceh, ia diperintahkan lagi ke Dili dalam rangka penyerahan wilayah dari Indonesia ke PBB. Dia ditugaskan mengorganisir penarikan 36 kompi Brimob dari sana. Setelah penyerahan, baru sepekan kembali ke Jakarta dia sudah ditugaskan lagi ke Aceh. Belum lama di Aceh dia diperintahkan balik lagi ke Jakarta mempersiapkan pengamanan Sidang Tahunan MPR.

Sebagai komandan Gegana, Chanafi berharap bisa mengumpulkan semua pasukannya dalam Kesatrian. "Supaya tidak menyulitkan. Manakala ada kajadian urgensi, ya bisa bergerak lebih cepat," ujarnya. Meskipun, dia mengakui, itu bukan hal mudah. Saat ini anggota Resimen II Brimod, baru 30 persen ada di Kesatrian. Yang lain di luar, ngontrak bayar sendiri.

Karena itu, dia maklum saja bahwa tidak mudah untuk mengumpulkan anak buahnya dalam waktu singkat. "Sekarang saya teriak, mungkin besok pagi baru mereka ngumpul," ujarnya sambil tertawa. (MIS/Philip Parera)

[an error occurred while processing this directive]